Mature Leader

Kepemimpinan, Materiku 1 Comment »

Sering kali ketika saya mengajar di kelas-kelas leadership, muncul perdebatan, soal apakah kematangan emosi (“emotionally mature”) menentukan seorang pemimpin layak disebut sebagai pemimpin yang matang? Banyak keluhan dari para eksekutif, sulit menemukan pemimpin yang handal tapi matang? Berangkat dari paradigma bahwa pemimpin diciptakan, bukan dilahirkan (Vince Lombardi, John C. Maxwell), maka bukan hanya emosi yang di”matang”kan , tetapi juga cara pemimpin bersikap, tingkat intelektualnya, level “passion”nya dan kematangan spiritualnya. Ke lima (5) kompetensi ini perlu dimatangkan oleh seorang “mature” leader (pemimpin matang) agar ia mampu mencerahkan pengikutnya.

Emotionally mature (soul). Barack Obama, 47 tahun, bagi kita adalah contoh elegan dari pemimpin yang matang secara emosi, meski ia muda belia. Ia tidak pernah nampak emosional dalam keseluruhan kampanyenya. Ia memiliki 3 kualitas kematangan emosi yang tinggi, yaitu: tetap tenang, selalu arif dan nampak stabil meski hujatan dan serangan kubu McCain menghujaninya secara dahsyat terhadap dirinya & tim suksesnya. Pada akhirnya, ia bisa keluar sebagai pemenang dari pergulatan debat panjang pemilihan presiden Amerika. Hanya pemimpin yang matang emosinya yang bisa memenangkan “permusuhan” tajam yang melukai hati dan batin. Sebaliknya, pemimpin yang kurang matang (gelap mata), akan terjungkal dalam sikap emosional yang membuatnya tergesa-gesa mengambil keputusan, lalu membuat kesalahan dan kalah. Jika ia kalah, mencaci lawannya. Jika menang, ia berpesta-pora tak terkendali. Matang secara emosi berasal dari matang secara jiwa, tanda-tandanya a.l. adalah berjiwa besar, berhubungan dengan siapa saja secara baik, beretika tinggi. Obama juga dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pemimpin yang matang (change-value leader) seperti: rendah hati (“humble”), integritas dan passion.

Bagaimana cara mengasah kecerdasan emosi pemimpin? “Sejak kecil perlu ditanamkan kesadaran berjiwa besar. Jika sudah kalah, segeralah mengaku kalah, itu terhormat, tidak memalukan atau mencemarkan nama baik. Tindakan itu justru menunjukkan kebesaran jiwa, kedewasaan, dan sikap ksatria (Kompas, “Belajar Mengaku Kalah” oleh Salahuddin Wahid, 15 Nov 2008). Banyak pemimpin kita, kalah di bidang ini. McCain adalah contoh “loser” yang berjiwa besar. Ia mendoakan Obama dan ikhlas dipimpin Obama sebagai presidennya.

Matang sikapnya (behavior). Baru-baru ini saya dan peserta kelas leadership sama-sama membedah kualitas kepemimpinan Barack Obama dan satu pemimpin dari Indonesia yang dikategorikan pemimpin matang dan sukses. Ditemukan bahwa, dari ke dua (2) pemimpin tsb., ada 6 sikap matang mereka yang paling menonjol a.l. selalu ikhlas bekerja keras, tetap jujur, bertanggung jawab, sangat peduli, konsisten dan mengayomi timnya. Ke-6 sikap ini (sering disebut sebagai sikap super positif oleh kalangan pemimpin), ternyata mampu melejitkan prestasi yang tak terbatas dari keduanya. Sebaliknya, ada GM tua, 50th, yang sikapnya belum matang, meski usianya matang dan ternyata prestasinya biasa-biasa saja.

Benar nasehat Zig Ziglar, motivator dunia, “It is not your aptitude, but it is your attitude that determines your altitude.” Sikap yang besar bersumber dari kematangan jiwa. Pemimpin yang matang, cenderung mengayomi, dibandingkan pemimpin yang kekanak-kanakan. Jika ke-2 pemimpin itu kekanak-kanakan sikapnya (bukan usianya), maka keduanya, tidak akan meraih posisi tinggi dalam organisasinya. Terbukti, yang satu presiden Amerika dan satunya CEO perusahaan lokal terkemuka di negara kita.

Intelektualnya mumpuni (mind). Tak diragukan lagi, saat Mahmoud Ahmadinejad sebelum terpilih menjadi Presiden Iran, ia menguasai benar sikap kebijakan luar negeri Iran terhadap Amerika, persoalan nuklir dan energi dunia. Demikian juga dengan Obama, ia fasih benar mengkomunikasikan visinya tentang perang di Iran dan Afganistan, solusi ekonomi global, tentang keamanan Amerika serta program kesejahteraan rakyat Amerika di kelas bawah dan menengah. Ia membawakan tema perubahan (”change”) yang cerdas dan mencerahkan bukan saja bagi Amerika tetapi juga di dunia yang sedang demam ”Obama”.

Di bidang ini, banyak rasanya calon pemimpin Indonesia di 2009, juga mumpuni secara intelektual. Tetapi apakah mereka, juga memiliki sifat kematangan yang lainnya? Jangan-jangan mereka diusung karena kemudaannya? Kata kunci untuk matang secara intelektual, ternyata bukan ijasah atau gelar, melainkan (1) kematangannya untuk terus belajar (“learning spirit”) dan (2) menguasai persoalan yang dihadapinya (“issue mastering”). Ciri dari pemimpin berintelektual tinggi adalah kepandaiannya dalam memilih alternatif solusi yang tersedia, memilah-milahnya dan memutuskannya dengan bijak dan elegan. Kecerdasan bukan hanya genius, jika itu harus genius, melainkan terampil berjalan dalam badai masalah.

“Passion”nya tak diragukan (heart). Salah satu kriteria pemimpin pemenang adalah mampu mengendalikan situasi kritis yang dihadapinya. Saya menyebut “passion” sebagai “gut” (gigh, ulet, tekun). Artikel Gill Corkindale dalam Harvard Business Publishing, 7 Nov 2008 dengan judulnya “The World’s First 21st Century Leader”, ia menyebutkan Obama sebagai pemimpin abad 21 ini. Menurutnya, Obama layak diusung dan dinobatkan, karena fleksibilitasnya, humilitasnya, adaptabilitasnya, dan ketahanannya (“resilience”). Andapun bisa memperdebatkan soal ini?

Jim Collins dalam bukunya yang fenomenal “Good to Great”, menyarikan 2 kualitas pemimpin super sukses dunia, memiliki (1) ketegaran hati yang tidak tanggung (“resilience”) dan (2) mendemonstrasikan kerendahan hati yang “humble” (“humility”). Pemimpin yang matang, biasanya selalu dewasa (baca: tegar hati) dan rendah hati. Keinginannya sangat kuat untuk meraih apa yang diimpikan. Orang menyebutnya “result-oriented”, daya juangnya terhadap kinerja sangat tinggi. Ia tak mudah menyerah, tapi tidak sombong dan arogan. Sedangkan pemimpin yang tidak matang, biasanya selain manja (baca: tidak memiliki “passion”), yang menonjol malah arogansinya. Jika kita memiliki pemimpin jenis ini, bakalan organisasi kita atau negara kita akan mengalami kesulitan. Kita sudah pernah memiliki pemimpin jenis ini, bukan?

Matang secara spiritual (spirit). Krisis moral (baca: kalah dengan egonya) tak lain diakibatkan oleh krisis spiritual. Pemimpin yang matang secara spiritual biasanya tak mementingkan dirinya sendiri. Ia matang dalam memelihara amanah sorga yang diberikannya yaitu, berbagi kebaikan, kemuliaan dan kehormatan. Itu semua dilakukannya karena ketulusannya untuk berkorban bagi pengikut yang dipimpinnya.

Tiga (3) ciri pemimpin matang secara spiritual, bukan semata-mata usianya, (1) sedikit bicara, banyak berbuat bagi pengikutnya, (2) catatan integritasnya (kejujurannya) sangat baik (3) pembawa damai dan keteduhan bagi pengikutnya. John C. Maxwell menasehatkan kepada para pemimpin: ”Yang pertama harus dipimpin oleh setiap pemimpin di level mana saja, adalah memimpin moralnya sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu memimpin orang lain.” Dalam hal yang satu ini, banyak pemimpin kita belum lulus.

Indonesia menunggu pemimpin matang yang mencerahkan sekaliber Barack Obama, yang telah lulus ujian dari ”nobody” ke ”somebody”. Bukankah demikian?

Penulis :
Harry “uncommon” Purnama, Trainer “Mature Leadership”

Secuil Pencerahan: “Silence & Strenght” (Mature Leader)

Kepemimpinan, Materiku No Comments »

Silence, berdiam diri! Ada sahabat selalu bertanya, “bagaimana mengelola kalbu?” Sekali lagi, hati disini adalah kalbu (the heart), non-fisik, tak nampak, tapi terasa dahsyat, bukanlah segumpal daging, bukan organ tubuh. Ia tempat dimana kita jatuh cinta. Ingat ungkapan yang sangat dekat dengan telinga kita, “kekasih hatiku dambaan kalbuku, belahan jiwaku..(soul mate, hmmm)!” “Hatiku menari-nari, jiwaku melompat-lompat..”.ungkapan yang menggetarkan, bukan? Itulah cara kerja dan fungsinya hati (kalbu). Orang sering memegang dadanya untuk menunjukkan hatinya sedang tersentuh atau bergelora atau sedang sedih. Tapi, “the heart” dalam bahasa Inggris, artinya selain hati (kalbu) juga berarti organ jantung secara fisik. Lalu kata sahabat, “Apakah mengelola kalbu sama saja dengan bagaimana menemukan dan mengelola cinta?” Hati sangat dekat dengan rasa cinta. Cinta adalah sifat Tuhan yang utama. Tuhan berarti ketenangan dan kedamaian. Itu sifatNya. Itu ciri khas cintaNya, ketenangan dan kedamaian. Jawaban mudahnya, ternyata melalui jalan “silent” (adjective: berdiam diri) ungkap Mother Theresa yang telah mengerti banyak tentang makna hidup dan makna cinta. Ia mengartikan cinta sebagai Tuhan yang penuh kasih sayang. Hening, tenang, berdiam diri adalah jalan menuju kepada doa. Doa jalan menuju kepada iman. Iman jalan menuju kepada cinta. Cinta adalah jalan menuju kepada pelayanan. Pelayanan jalan menuju kepada kedamaian. Dan cinta adalah kekuatan hakiki nan abadi, karena ia adalah sifatnya Tuhan. Cinta itu kemudian melahirkan kebahagiaan hati, merasa damai, merasa tenang, merasa cukup dan merasa senang meski sedang dilanda kesedihan, di PHK dari kerjaan. Berdiam diri bagi pemimpin adalah kekuatan. ”Tengoklah kedalam” potongan syair Ebiet G. Ade tsb. cocok menggambarkan, ada kekayaan yang sudah lama kita tinggalkan. Apa itu? Lupa menengok kedalam, lupa melihat ke dalam diri, lupa bahwa disana ada kekuatan besar, cinta nan abadi, bukan diluar, bukan pada materi dan ciptaan. Materi dan harta, istilah Emha Ainun Najib, 55th, “mata’ul ghurur”, perhiasan dunia, kata Adolf Posumah dari Manado, “tai macan”, sesuatu yang harus dibuang keluar, tak berguna. Di luar sana, “uang” banyak yang menyamakan dengan hipokrisi dan kepalsuan yang bertele-tele, kekerdilan mental, kebutaan spiritual, mau cepat kaya, kebrutalan dan kesesatan ilmu serta kesesatan perilaku. Yang semuanya itu jauh dari ketenangan batin kita, bukan? “Untuk menangani kegundahan diri sendiri, gunakanlah akal Anda. Untuk menangani orang lain, gunakanlah hati Anda” (John C. Maxwell). Nampaknya leadership itu memang a relationship of many hearts (bukan komunikasi dengan uang). Dengan menengok kedalam, terang hati akan memancar dengan hebat, semakin keras dan semakin terang. Begitu ”terangnya” terpancar, gairah cinta itu akan menjalar ke seluruh pikiran dan rasa (”the power of unconditional love”). Begitu pikiran dan rasa tersentuh, seluruh tubuh tergerak. Ia akan menggerakkan moralitas dan karakter. Menjadi jujur, itulah upah dari terang kepemimpinan. Ketika terang hati menjelma menjadi sebuah kekayaan moral, orang di sekitar akan melihat terang itu, mereka dapat merasakannya. Mengapa? Mereka melihat ”walk the talk” berjalan di hidup Anda. “Bagai air bening dari sumber mata air jernih yang terus mengaliri selokan yang kotor, lama-kelamaan selokan akan jernih juga.” Anda dan saya lalu disebut, telah melakukan apa yang sering Anda & saya bicarakan di ruang meeting kantor atau di kelas training/seminar, yaitu kejujuran (integrity, honesty, the best value). Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda teorikan, yaitu kebaikan. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda janjikan, yaitu kepedulian. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda impikan, yaitu kemuliaan. Kejujuran, kebaikan, kepedulian dan kemuliaan itu semua adalah buah-buah Roh yang Maha Tinggi yang ingin diwujudkan dalam perilaku dan tindakan para pemimpin. Diwariskan, diturunkan, dijadikan nyata. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” kata Emha Ainun. Emha pemimpin gerakan iman dan budaya, percaya bahwa pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya. ”Selagi ada tangan yang masih bersih, tangan yang kotor masih bisa dibersihkan..” (Harry uncommon). Lalu, apa yang akan terjadi jika Anda berubah jadi lebih tenang dan lebih damai? Inilah ekspresi-ekspresi awal dari orang terdekat Anda, ”Tumben, tenang banget bos kita.., keren?? Gak salah nih bos..? Serius bos? Besok lagi ya bos..he..he..!” Terang itu begitu kasat mata. Pemimpin yang baik, akan nampak oleh anak-anak buahnya. Pemimpin yang jahat juga lebih kelihatan. Keheningan menyelamatkan kita. Ketenangan pemimpin sumber kedewasaannya, sumber kematangannya (its source of maturity). “Anda tidak bisa berjabat tangan dengan tangan terkepal” (Indira Gandhi). Makanya orang-orang yang matang, gesturenya selalu open, terbuka, bersinar ingin membuka persahabatan dengan lingkungan sekitarnya. Matang lawannya mentah. Buah matang, empuk. buah mentah, keras. Salah satu kompetensi pemimpin matang (emotionally & attitude) ya tenang, sabar dan bijak. Kalau buah ia empuk. Bukan emosi & pikiran saja yang dibebaskan, tubuh juga dimerdekakan dari perbudakan kegelapan. Tubuh juga siap melakukan perubahan-perubahan. Tubuh akan kini ikhlas untuk menderita dan menerima ketidaknikmatan. Yang tersulit dari perubahan itu adalah mengajari tubuh. Ia maunya nikmat terus, senang terus, enak terus, kenyang terus. Gairah terang hati yang kini telah menjalari tubuh jasmani itulah, yang akan menutupi sensor-sensor kesenangan dan kenikmatan semu. Sensornya diganti. sensor derita dan pengorbanan yang kini mulai menguasai tubuh. Jika tubuh sudah dalam kendali sensor baru ini, kesakitan, kelaparan, deraan, pukulan bahkan pancungan kepalapun tidak akan ditakuti lagi oleh tubuh yang berani {“bold”). Contoh, dalam bertinju, otak akan mengeluarkan sensasinya. Dengan keagungan Tuhan, sang otak yang mengendalikan tubuh kita, mengeluarkan hormon endorphin. Tubuh petinju tak akan terasa sakit di-uppercut oleh lawan, juga di berondong jab oleh lawan, ia tetap berdiri, tidak roboh, tahan banting. Tulang rusuk yang patah tak terasakan. Itulah sensasi dari sensor otak yang sudah diubahkan, menjadi super kuat. Tubuh sudah dikendalikan oleh sensasi otak. Otak mengambil alih fungsi tubuh. Tubuh tinggallah hanya tulang, daging, kulit dan selulit. Tubuh merasakan derita tetapi tidak sedahsyat sebelumnya. Itulah mengapa Panglima Sudirman mampu bertahan gerilya keluar masuk hutan gelap dengan derita sakit paru-parunya yang gawat dan dahsyat ketika itu. Tubuhnya tidak lagi merasakan sakit. Masuklah kedalam, anda akan menemukan kekuatan hati. Kekuatan diri. Orang menyebutnya ”work with passion” (bekerja dengan kekuatan gairah yang tinggi dan intense feeling). Rahasia passion. Sebagai contoh nyata lainnya, Mahatma Gandhi mengapa mampu bertahan dalam siksaan fisik yang hebat? Ia sering menerima tendangan sepatu lancip sipir penjara dan puasa tanpa makan sepanjang hidupnya. Sampai akhirnya, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dirinya ditembak oleh warganya sendiri yang beragama Hindu. Kenapa tahan? Ya, passion dari ketenangan dan kekuatan. Jika hari ini anda merasa tertekan & malu karena belum bisa naik mobil BMW ke kantor padahal anda seorang Direktur, itu masih belum apa-apa dibandingkan derita tubuh sepanjang hidup Panglima Sudirman dan Mahatma Gandhi. Hanya jika terang hati menguasai tubuh dan rasa, maka segala derita menjadi seperti ke titik zero. Masih ingat orang pajak yang ke kantor naik motor, meski sesungguhnya ia bisa menerima suap sebuah BMW 318i baru? Ingat kepala sekolah SMA yang menyapu sekolahnya setiap hari meski ia bisa memberi perintah saja kepada tukang sapu sekolah? Ingat seorang janda yang jualan pisang goreng keliling berjalan kaki hingga sakit asma berat, hanya karena tanggung-jawabnya untuk menyekolahkan anaknya sampai lulus di UGM? I
ngatkah perjuangan keras Andrie Wongso motivatir sukses dari Malang, yang tidak pernah lulus SD, harus berjualan kue yang dibuat ibunya sendiri, selagi teman-temannya pergi ke sekolah? Mengapa mereka melakukan semuanya itu? Anda kini sudah tahu jawabannya, bukan? Jika hari ini hidup Anda tidak dikuasai oleh keserakahan, maka kebesaran hati sudah menjadi milik Anda. Penuturan Peter F. Drucker: “Kita hidup di era peluang yang tak terduga, kesempatan begitu banyak. Jika memiliki ambisi, cerdik dan jujur, Anda akan dapat menaiki puncak profesi pilihan Anda, tanpa memandang dari mana Anda memulai. Tokoh besar lainnya seperti Napoleon, Da Vinci, Mozart, dan seniman besar lainnya, dapat kita teladani dalam mengelola diri sendiri yang diwujudkan dalam karya. [Classic Drucker, 2007]. Keberhasilan mengelola diri sendiri dan karya akan membawa semua pribadi berhasil, termasuk Anda. Masuklah kedalam, Anda akan menemukan kekuatan hati (Harry uncommon).

Sumber : milist IDNLP (oleh Harry Uncommon)

Kisah Empat Pendekar Sakti

Materiku, Wisdomania No Comments »

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah program pelatihan. Dalam
pelatihan itu para peserta diberikan kesempatan untuk mempraktekan
apa yang biasa kita sebut dengan ‘mind power’. Secara teoritis, orang-
orang yang dapat menggunakan mind power dalam pelatihan itu akan
mampu untuk melakukan tiga tantangan yang tampaknya tak gampang.
Tantangan pertama menjatuhkan bola lampu dari ketinggian tertentu
menimpa keramik yang biasa digunakan sebagai lantai rumah. Tetapi
yang pecah keramiknya, bukan bola lampunya. Tantangan kedua, tingkat
kesulitannya lebih tinggi karena harus mematahkan sebatang besi
dengan menggunakan kertas koran. Dan, yang lebih sulit dari itu
adalah mematahkan sebatang pensil dengan menggunakan kertas HVS. Anda
percaya semua itu bisa dilakukan? Mind power bisa membantu
menyelesaikannya.

Ketika orang-orang mencoba semua tantangan itu, saya teringat sebuah
kisah klasik tentang seorang sakti dengan ketiga muridnya. Saat
kesaktian para muridnya sudah sangat tinggi, sang guru tahu bahwa dia
harus segera pergi. Untuk itu dia harus mempercayakan perguruannya
kepada penerusnya. Setelah itu, Sang Guru akan memasuki tahap akhir
dari misi hidupnya, yaitu; pergi melanglangbuana. Pertanyaannya
adalah; kepada siapa dia harus memberikan kepercayaan itu? Ketiga
muridnya sama-sama sakti. Sama-sama baik. Dan sama-sama hebat.
Akhirnya, Sang guru memutuskan untuk memberikan tiga jenis ujian.

Ujian pertama menjatuhkan sebutir telur dari puncak tebing menimpa
batu cadas, namun telur itu tidak pecah. Ini tugas yang paling
gampang. Kedua, mengosongkan air di telaga dengan menggunakan jari
telunjuk. Tentu yang ini agak sulit. Dan yang ketiga, membuat ukiran
hati masing-masing pada lempengan besi hanya dengan menggunakan
tatapan mata. Pastilah tantangan ketiga ini yang paling sulit
dilakukan. Sedangkan untuk meneyelesaikan semua tantangan itu, mereka
hanya diberi waktu selama tiga hari. Barangsiapa bisa menyelesaikan
ujian itu; maka dia mendapatkan warisan perguruan beserta seluruh
aset yang ada didalamnya.

Dihari yang ditentukan, para murid menghadap Sang Guru. Lalu Sang
Guru memberi kesempatan kepada murid pertama untuk menunjukkan semua
yang sudah dilakukannya. Dia membawa telur ayam itu dalam keadaan
utuh, sedangkan batu cadas yang tertimpa hancur berantakan. Pastilah
dia memiliki ilmu gingkang yang sangat tinggi sehingga bisa
dipindahkan kepada sebutir telur. Lalu, dia menunjukkan telaga yang
kering kerontang. Tak setetes pun air yang masih tersisa didalamnya.
Membuktikan bahwa dia bisa melakukan pekerjaan besar hanya dengan
menggunakan telunjuknya. Kemudian, dia menyerahkan sebongkah besi
baja yang berukir hati dengan ukuran yang sangat besar. Ini
membuktikan bahwa tatapan matanya begitu kuat sehingga baja sekalipun
tunduk kepadanya.

Sang Guru kemudian berkata; “Muridku, ukuran hati kamu begitu
besarnya. Mengapa bisa demikian?”
“Guru,” sang murid sakti menjawab, “saya memiliki kebesaran hati
untuk menjalani segala sesuatu dalam hidup ini.” lanjutnya. “Saya
tidak gentar menghadapi apapun. Karena saya yakin bahwa saya bisa
menyelesaikan segala sesuatu dengan baik.” Dia menjelaskan dengan
semangat yang berapi-api. Sangat terasa aura kebesaran hati yang
dipancarkannya.

Murid kedua mendapatkan gilirannya. Dia menunjukkan semua bukti
kesaktiannya, seperti murid pertama. Namun, ukiran hati dalam
lempengan besi itu ukurannya sangat kecil sekali, hingga nyaris tidak
kelihatan. Sang guru bertanya;”Muridku, aku lihat ukuran hati kamu
sebegitu kecilnya. Mengapa bisa demikian?”

“Guru,” jawab sang murid sakti, “ciut hati saya jika harus melakukan
suatu keburukan. Saya sangat takut kalau harus melakukan hal-hal yang
melanggar norma dan etika.” Lanjutnya. “Saya tidak memiliki cukup
keberanian untuk mempertaruhkan kehormatan.” Dia menjelaskan dengan
mata berkaca-kaca. Sangat terasa aura kerendahan hati yang
dipancarkannya.

Lalu, tibalah giliran murid ketiga. Dia membawa telur utuh, dan batu
karang yang hancur lebur. Dia juga menunjukkan lempengan baja yang
berlubang membentuk hati. Namun, ketika ditanya tentang telaga, sang
murid menjawab; “maaf guru, saya tidak mengosongkan telaga itu,”
katanya. “Mengapa?” begitu Sang Guru bertanya.

Sang Murid mengatakan bahwa setelah berhasil menyelesaikan tugas
paling mudah – menjatuhkan telur diatas batu cadas – dia berpikir
untuk langsung menyelesaikan tugas yang paling sulit, yaitu; mengukir
hati pada lempengan besi hanya dengan menggunakan tatapan mata.
Sebab, jika tugas paling mudah dan paling sulit bisa dituntaskan,
pasti tugas yang sedang-sedang saja bisa terselesaikan. “Tetapi,”
kata Sang Guru, “Kamu tetap harus membuktikannya terlebih dahulu.”

“Benar, Guru,” jawab sang murid. “Semula saya berpikir untuk
mengeringkan telaga itu. Tetapi,” lanjutnya. “Setelah membuat lubang
tembus pandang berupa hati dibesi itu; seolah saya bisa memasukinya,
dan tiba-tiba saja saya merasakan hati saya berbicara.” katanya.

“Apa yang dikatakan oleh hatimu?” tanya Sang Guru.
Sang murid menceritakan bahwa ukiran hati pada baja itu
berkata; “Setelah ujian paling sulit kamu taklukan, pastilah kamu
bisa menyelesaikan ujian yang lebih mudah. Tetapi, jika kamu
menyelesaikan ketiga ujian itu, maka kamu berubah menjadi sombong,”
katanya. “Saya tidak ingin hati ini berubah menjadi sombong,”
lanjutnya. “Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengeringkan telaga
itu.”

“Aku mengerti,” kata Sang Guru. “Namun, tahukah kamu bahwa tidak
melakukannya berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan warisan
perguruan?” Sang murid mengangguk. Dia menerima konsekuensi atas
keputusannya. “Bukankah kamu tahu bahwa mewarisi perguruan ini
merupakan dambaan semua orang?” Sang Guru meyakinkan. Sang murid
kembali mengangguk. “Bukankah dengan mewarisi perguruanku, kamu akan
mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati?” Lanjut Sang Guru. Sang
murid tetap pada keputusannya; melepaskan kesempatan memiliki
perguruan itu.

Lalu, Sang Guru membagi dua perguruan itu. Setengahnya diberikan
kepada muridnya yang memiliki ukuran hati besar. Diperguruan itu,
kemudian dia mengajarkan tentang optimisme, semangat pantang
menyerah, dan kebesaran hati. Setengahnya lagi diberikan kepada
muridnya yang mempunyai ukuran hati sangat kecil. Diperguruan itu,
kemudian dia mengajarkan tentang menjaga kehormatan, menjauhi
keburukan, dan memupuk kerendahan hati. Itulah sebabnya, mengapa
sangat mudah bagi kita untuk menemukan guru yang mengajarkan tentang
kebesaran hati. Juga mudah untuk menemukan guru yang mengajarkan
tentang kerendahan hati. Dari kedua perguruan itu, orang-orang
kemudian belajar berjiwa besar dan menjaga kesucian diri. Lalu
menggabungkan kedua sikap itu untuk menjadikan dirinya; manusia
berkemampuan tinggi yang memiliki budi pekerti.

Muridnya yang ketiga? Dia tidak mendapatkan sedikitpun dari warisan
perguruan. Sebab, setiap orang harus menerima konsekuensi atas
tindakan dan keputusan yang diambilnya. Namun, dari semua yang sudah
dilakukannya, dia mendapatkan hadiah lain; Sang Guru membawanya pergi
melanglangbuana. Itulah sebabnya, guru yang membimbing kita cara
membaca isyarat hati; tidak selalu mudah dicari. Karena, guru seperti
itu jarang menetap. Mereka melanglangbuana. Menjelajah hidup. Dan tak
terikat ruang dan waktu. Namun, ketika hendak pergi, Sang Guru
berkata kepada kedua murid pewaris perguruannya; “Meskipun tak
kelihatan, namun kami tetap berada didalam hatimu.” Katanya. “Jika
kalian ingin menemui kami, maka kalian tahu dimana harus
mencari….” Lalu, kedua orang sakti itu memudar. Menyatu dengan
udara. Kemudian terbang bersama angin. Mereka pergi
melanglangbuana…..

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Hati itu seperti prasasti. Hanya berguna bagi mereka yang bersedia
membaca isyarat, dan menerima nasihat.

Balada Sepotong Roti Dan Sepercik Api

Materiku, Wisdomania No Comments »

Anda mempercayai bahwa memberi seseorang kail, jauh lebih mendidik
dibandingkan dengan memberinya ikan. Makanya, ada ungkapan
ini;”Berikan kail, bukan ikan!” Itu jika anda berada dalam posisi
sebagai ’sang pemberi’. Seandainya anda diposisi ‘yang diberi’; anda
pilih ikan atau kailnya? Saya yakin bahwa keputusan anda akan bias.
Entah karena anda merasa gengsi kalau memilih ikan. Atau, mungkin
anda memang tukang mancing ikan. Karena itu, saya tidak meminta anda
untuk memilih diantara ikan atau kail. Saya justru ingin anda
memilih; diantara sepotong roti dan sepercik api. Mana yang akan anda
pilih; roti atau api?

Saya tidak akan mencampuri keputusan anda. Namun, sebelum saya
membahas lebih lanjut, tentukan pilihan anda; roti atau api? Itu
penting bagi anda, karena dalam sejarah umat manusia; ada seorang
pribadi besar yang kisah hidupnya sangat berkaitan dengan
keputusannya untuk memilih diantara roti dan api. Anda ingat siapa
orang itu? Ya, dia adalah Nabi Musa sang kekasih Tuhan. Dijaman
ketika dia dilahirkan, ahli nujum meramalkan bahwa Firaun akan
dikalahkan oleh bayi laki-laki yang dilahirkan pada suatu rentang
waktu khusus. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh
semua bayi lelaki yang dilahirkan pada masa itu. Sedangkan istri
Firaun, menyembunyikan seorang bayi lelaki yang sangat menarik
hatinya.

Apa yang terjadi ketika Fiarun menemukan bayi lelaki itu? Dia
memerintahkan untuk membunuhnya. Sang ratu tentu keberatan. Sehingga,
akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan ujian. Anda tahu ujiannya
seperti apa? Dihadapan sang bayi disediakan dua pilihan; roti dan
api. Jika bayi itu memilih api, maka dia akan diijinkan untuk hidup.
Tetapi, jika dia memilih roti, maka dia harus mati! Nah, sekarang
perhatikan kembali pilihan anda tadi….

Sebenarnya, ada apa diantara roti dan api? Begini. Roti, adalah
produk dari serangkaian proses yang panjang. Untuk mendapatkan
sepotong roti anda harus melibatkan sekurang-kurangnya seribu orang
yang tak kelihatan. Seribu orang? Ya. Ada petani yang menanam gandum.
Buruh yang menyiangi rumput. Kuli angkut. Sopir truk. Penjual bensin.
Pembuat oven. Pedagang loyang. Pertenak telur ayam. Karyawan pabrik
gula. Mereka adalah bagian dari ribuan orang tak terlihat untuk
membantu anda mendapatkan sepotong roti.

Pertanda apa ini? Ini adalah pertanda bahwa untuk sepotong roti yang
anda makan; anda berhutang budi kepada ribuan orang. Tetapi, mengapa
Tuhan memberi pertanda melalui roti dan api? Roti, tiada lain adalah
isyarat kenikmatan. Sehingga, Musa yang masih bayi itu mengajarkan
kepada kita sebuah moral bahwa semua kenikmatan dan pencapaian hidup
yang kita dapatkan – tidak ada yang terlepas dari kontribusi orang
lain. Bayi Musa mengajarkan; jangan lupakan fakta itu!

Roti juga adalah simbol dari kekayaan. Coba anda perhatikan; adakah
satu sen saja dari harta yang anda miliki itu diperoleh tanpa peran
orang lain? Pasti tidak ada. Harta anda, semuanya didapatkan atas
jasa dan bantuan serta kontribusi orang lain. Oleh karena itu, orang
kaya yang sombong tak ubahnya seperti manusia pandir yang tidak
menuruti ajaran Sang Nabi.

Roti adalah jabatan. Perhatikan jabatan yang anda sandang itu.
Bisakah anda mendapatkan jabatan itu tanpa dukungan dan bantuan serta
kontribusi orang lain? Jika kita pejabat publik, kita mendapatkannya
karena ribuan bahkan jutaan orang mempercayakan pilihannya kepada
kita dibilik suara. Jadi, para pejabat publik yang mengabaikan
rakyatnya tidak ubahnya seperti manusia durhaka yang lupa bahwa
jabatannya adalah titipan dari orang-orang yang dipimpinnya. Dia lupa
kalau Sang Nabi mengajarkan bahwa roti itu dibuat oleh ribuan bahkan
jutaan orang tak terlihat.

Roti adalah jabatan. Jika anda pejabat perusahaan. Supervisor,
Manager, Direktur, atau CEO sekalipun. Bisakah anda mendapatkan
jabatan itu tanpa orang lain? Tunjukkan kepada saya satu orang saja
manusia dimuka bumi ini yang memiliki jabatan tinggi dengan hasil
yang diusahakannya sendiri; jika itu ada. Jadi, jika seorang pejabat
perusahaan besar kepala, sok kuasa, dan memperlakukan anak buahnya
semena-mena; maka dia tak ubahnya seperti manusia yang lupa diri.
Padahal, sang Nabi bilang; roti yang kamu nikmati itu, adalah hasil
jerih payah orang lain.

Sedang api, adalah salah satu unsur murni di alam. Artinya, alam
menyediakan api tanpa campur tangan manusia sekalipun. Jika anda
malih rupa menjadi belatung, lalu anda masuk kedalam bumi sedalam-
dalamnya, maka anda akan bertemu dengan sumber api. Jika anda memilih
menjadi seekor capung, lantas terbang menuju matahari; maka anda juga
akan menemukan api.

Mengapa Sang Nabi yang masih bayi itu memilih api? Ternyata, itu
merupakan makna simbolik penuh arti. Seolah melalui Sang Nabi, Tuhan
hendak menyampaikan sebuah wahyu. Seperti yang dirangkum didalam dua
aspek berikut ini:

Pertama, menghindari roti. Keluarlah dari perebutan atas sepotong
roti. Perhatikan, dijaman ini; orang-orang sibuk berebut sepotong
roti. Berlomba rebutan kekayaan. Berkompetisi meraih simpati untuk
mendapatkan kekuasaan. Sikut-sikutan untuk memperoleh kursi dan
jabatan di perusahaan. Sikut kiri. Tonjok kanan. Injak bawah, tendang
depan, kentut belakang. “Keluarlah dari sana!” kata Sang Nabi. “Dan
merdekakan dirimu dari jeratan pesona sepotong roti”.

Kedua, memilih api. Milikilah unsur api yang murni. Karena api adalah
simbol dari daya hidup yang membara dan semangat mengelora. Biarkan
api itu memberi sinar bagi dirimu. Dan ijinkan dunia terang benderang
karenamu. Ketika memilih api, Sang Nabi menghidupkan jiwanya dengan
unsur yang paling murni. Dan dengannya dia memancarkan berkas-berkas
cahaya keseluruh penjuru bumi.

Sekarang, perhatikan kembali pilihan anda tadi.
Jika anda memilih roti, anda benar. Dengan roti itu anda akan menjadi
kenyang. Lagipula, seseorang harus memilih roti, agar kehidupan
manusia bisa tertata rapi. Yang perlu anda lakukan adalah; hendaknya
anda selalu ingat bahwa ada ribuan orang yang tidak anda kenal telah
memberikan kontribusinya, kepada sepotong roti yang anda miliki.
Kepada kekayaan anda. Kepada kedudukan anda. Kepada jabatan anda.
Ingatlah mereka. Dan berbuat baiklah dengan roti yang anda miliki
itu. Sebab, jika anda menjadi sewenang-wenang; maka anda telah
mengkhianati mereka.

Jika anda memilih api. Tetapkanlah hati anda dengan pilihan itu.
Karena, meskipun anda tidak kekenyangan; namun anda mempunyai cahaya
yang bisa menjadi penerang. Semoga, api yang anda pilih itu
menjadikan jiwa anda semakin hidup dalam terang. Sehingga, terang
anda; bisa menjadi petunjuk bagi para pemilik roti, dan pengembara
serta para pencari cahaya. Karena, ketika anda memilih api;
sesungguhnya anda telah dipilih Tuhan, untuk menjadi pembawa terang.
Seperti Tuhan telah memilih Musa, untuk membawa umatnya menuju
pencerahan.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development

Catatan Kaki:
Ada satu kenyataan hidup yang harus kita terima, bahwa; tak satupun
pencapaian pribadi yang kita dapatkan tanpa kontribusi orang lain.
Malu kita, jika semua pencapaian itu tidak menjadikan diri kita
manusia yang semakin berarti bagi mereka yang telah rela
berkontribusi.

Cerita malam tanpamu (kerinduan 1)

Puisiku 4 Comments »

Malam masih melantunkan sajak dengan khusuk

Sementara Mentari mengoyak kedamaian sang malam mengernyit menahankan perih.

Keduanya senantiasa bergulat dan melumat satu sama lain

Seolah tidak ada yang kalah dari semua pergumulan

disaksikan sebongkah batu

meringis saat mentari membakar dan mengernyit dicengkeram dinginnya malam.

Kini seolah semuanya terhenti, saat keduanya letih

dan ketika sang batu terbatuk tak kuasa lagi menahan kantuk

Menjadi isyarat bagi keduanya tuk segera sadari kekeliruan

yang mungkin terjadi

Dan akhirnya senyum lebar mentari menguak pagi, sementara malam tersipu dan malu

Memulai kisah baru penuh  cinta

saat malam memeluk erat mentari rebah dalam renjana

saat mentari bangunkan malam dengan hangat

saat sang batu pulas dalam kesendirian yang damai

lalu… dimanakah engkau… sahabatku..

Oyot Dragon WP Theme

Downloads, WP Theme No Comments »

oyotdragon

Anda menginginkan Theme Wordpress seperti ini, silahkan download di sini. OyotDragon

Hati-hati dengan Fokus Anda, Ia Akan Jadi Kenyataan

LOA & LOA-ku  Tagged No Comments »

Oleh : Roni Yuzirman

You are what you focus on. Kira-kira begitulah yang dimaksudkan oleh Joe Vitale dalam bukunya The Attractor Factor. Fokus anda akan jadi kenyataan. Masalahnya, fokus kita itu sering ke arah mana? Ke arah yang negatif atau positif. Secara tidak sadar kita sering berfokus ke yang negatif.

Kalau kita fokus kepada yang negatif, pasti itu akan jadi kenyataan. Kita sering tanpa sengaja memfokuskan perhatian kepada yang negatif. Mungkin itu sudah nature-nya kita atau pengkondisian dari lingkungan. Secara otomatis kita akan selalu fokus kepada yang negatif. Contohnya: Anda mengalami kendala untuk memulai usaha. Alasannya adalah waktu yang terikat dengan urusan kantor. Kenyataan yang akan terjadi adalah, anda tidak akan pernah memulai karena fokus anda adalah kepada ALASAN yang pada akhirnya akan menjadi penghambat anda untuk maju bertindak.

Kita fokus kepada masalah, yang terjadi adalah masalah semakin bertambah. Fokus kepada alasan, maka akan semakin banyak hambatan yang dihadapi. Fokus kepada kekurangan, maka kita akan semakin kekurangan. Begitulah kekuatan pikiran ini mengarahkan kita kepada yang kita pikirkan. Pikiran bawah sadar kita tidak bisa membedakan yang negatif atau positif. Baginya, semua adalah positif. Kalau tidak percaya, coba ikuti tes berikut ini: Saya ingin anda TIDAK membayangkan gajah. Apa yang terjadi? Pikiran anda pasti membayangkan gajah.

Kebalikan dengan itu, kalau kita fokus kepada yang positif, itu pun akan jadi kenyataan. Kalau kita fokus untuk menjadi kaya, kita akan jadi kaya. Kalau kita fokus kepada gaya hidup sehat, kita akan sehat. Kalau kita fokus kepada mencintai, kita akan dicintai. Kalau kita fokus kepada memberi, kita akan menerima. Kalau begitu, sebaiknya mulai saat ini kita harus bertekad untuk selalu memfokuskan pikiran kita kepada yang positif: kaya, sehat, bahagia, senang dan sebagainya.

Sayangnya lingkungan kita selalu mengarahkan kita kepada yang negatif. Mulai dari lingkungan keluarga, kerja, bahkan pemerintah pun tanpa sengaja selalu mengarahkan pikiran kita kepada yang negatif dan pesimis. Coba saja anda ikuti berita di koran, tv, radio. Berapa persentase berita negatif atau positif? Pasti kebanyakan yang negatif. Kalau begitu berhentilah nonton tv, baca koran, dengar berita radio yang isinya negatif itu. Keluarga dan teman-teman juga sering membawa kita kepada yang negatif. Komentar-komentar negatif dan umpatan-umpatan kekecewaan sering kita dengar dari lingkungan pergaulan sehari-hari. Kalau begitu, tinggalkan saja teman atau lingkungan yang seperti ini. Minimal, bentengi pikiran kita agar tidak tercemari pikiran negatif itu. Selanjutnya, cari lingkungan baru yang positif, produktif dan saling mendukung.

Saya pun sering tanpa sadar terjebak kepada pikiran negatif. Kalau sudah masuk kepada pikiran seperti ini, rasanya seperti menarik pikiran negatif lainnya. Badan pun rasanya seperti lelah dan lemas. Amarah dan pikiran negatif itu rupanya menyedot energi tubuh kita. Jika sudah terjadi seperti ini, biasanya saya segera tersadar akan kesalahan fokus ini. Segera saya balikkan pikiran menjadi positif. Hati pun kembali tenang. Tubuh pun kembali berenergi.

Ayo, mulai saat ini fokuskan perhatikan kepada yang positif. Bergaullah dengan orang-orang positif. Baca, dengar, lihat yang positif. Arahkan pikiran hanya kepada yang positif. Ubah yang negatif jadi positif. Berhentilah langganan koran. Jangan nonton berita tv. Mulailah baca buku yang positif. Berlanggananlah bacaan-bacaan yang positif yang isinya adalah peluang, solusi, inovasi, dan inspirasi sukses. Sekarang juga. Jika yang masuk ke otak kita positif, yang keluar pun pasti positif.

Sumber : http://www.virtual.co.id

Pelajaran Kepemimpinan dari sebuah Novel “The Ship Builder”

Kepemimpinan, Kutipan Novel No Comments »

Marcus adalah seorang pembuat kapal di Athena, 2,500 tahun yang lalu. Ia adalah pemilik usaha dan pekerja keras yang membawahi belasan karyawan. Namun, kerja keras tidak cukup. Usaha Marcus nyaris guncang, karena hampir tidak dapat memenuhi deadline delivery kapal yang dipesan pelanggannya. Penyebabnya karena para karyawannya yang hampir tidak punya spirit. Jumlahnya terus menurun, hingga tinggal beberapa orang, itupun dengan skill yang tidak mencukupi. Padahal Marcus sudah berusaha memberikan fasilitas yang baik. Tapi mengapa para karyawan tidak mau bekerja sesuai dengan keinginannya. Kalau Marcus sampai gagal menyelesaikan project pembangunan kapalnya, apa kata dunia? Ini kedengarannya akrab di telinga saya.

Beruntung Marcus bertemu dengan Barnabas, seorang pembuat kapal paling sukses di Athena waktu itu. Untunglah Marcus tidak malu untuk bertanya. Dan dengan bijaksana Barnabas membagi ilmu nya. Yang ternyata dia peroleh dari lima keping sabak (tablet) yang berisi rahasia sukses dalam membangun imperium bisnis kapalnya. Saya tahu, pasti Anda juga ingin tahu rahasia nya kan? Oke, ini dia:

Buatlah mereka merasa dihargai

Kapankah terakhir Anda benar-benar menyatakan bahwa Anda menghargai karyawan Anda? Maksud saya menyatakan secara langsung, face to face. Ini yang harus kita koreksi. Biasanya kita hanya memberikan tugas dan perintah. Namun lupa memberikan apresiasi atas apa yang karyawan telah lakukan untuk usaha kita. Padahal betapa jerih payah mereka sedikit banyak telah memberikan kontribusi bagi usaha yang kita kelola.

Orang tua kita jaman dulu sebenarnya sudah banyak memberikan contoh, dengan selalu mengucapkan “tolong” ketika memberikan tugas, dan mengucapkan “terimakasih” ketika tugas selesai dilaksanakan. Ada baiknya hal sederhana ini diterapkan kepada tim .

Lihat potensi mereka, bukan kekurangan mereka

Ini yang sulit. Sebagai pengusaha kita mau instan. Maunya kalau punya karyawan ya yang siap pakai, siap kerja. Kalau selama bekerja performance tidak sesuai dengan harapan ya kasih surat peringatan, kalau perlu dikeluarkan, ganti yang lebih bagus. Padahal ternyata sebuah permata bisa datang dari batu yang kita sangka batu biasa. Kalau kita berkutat pada kesalahan dan keburukan karyawan kita, bisa-bisa potensi yang sebenarnya tidak pernah terlihat.

Memimpinlah dengan otoritas, bukan kekuasaan

Otoritas berbeda dengan kekuasaan. Dengan kekuasaan, kita dapat memerintahkan karyawan kita melakukan sesuatu yang kita minta. Dan kalau tidak melaksanakan kita berikan sanksi. Namun, justru seni nya adalah, bagaimana membuat karyawan melakukan sesuatu yang kita inginkan dengan sukarela, tanpa perlu kita perintahkan, itulah otoritas.

Otoritas datang dari integritas kita sebagai pemilik. Jika kata-kata kita bisa dipegang. Jika kita bisa memberikan contoh kepada karyawan bahwa kita melakukan apa yang kita ucapkan. Jika kita bisa “walk the talk”, maka otoritas akan dapat kita miliki. Kekuasaan bisa datang dan pergi, namun otoritas akan melekat pada pribadi.

Cintai mereka terlebih dahulu

Tentu kita ingin dicintai oleh karyawan. Namun cinta karyawan kita tidak dapat kita beli. Mereka baru akan mencintai kita, ketika kita mencintai mereka terlebih dahulu. Dan cinta adalah kata kerja, yang baru dapat dirasakan oleh karyawan, dengan tindakan kita. Cinta disini maksudnya adalah bagaimana kita memperlakukan karyawan dengan rasa hormat, sayang dan penuh kasih. Tentu saja maksudnya ke semua karyawan, bukan karyawan2 tertentu saja.

Buatlah mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang luar biasa

Mungkin usaha Anda memiliki visi luar biasa. Mungkin Anda bercita-cita membangun konglomerasi global. Mungkin Anda yakin suatu saat nanti usaha Anda akan menjadi nomor satu di Asia. Namun, apa guna nya cita-cita tersebut bagi karyawan kita, jika mereka tidak merasa menjadi bagian dari cita-cita besar tadi.

Disinilah tantangan untuk selalu memahami apa mimpi karyawan kita, dan mengkaitkan mimpi perusahaan dengan mimpi mereka. Ketika mimpi perusahaan adalah mimpi karyawan, maka kemajuan ada di tangan. Maka prinsip terakhir ini oleh Myrick disebut sebagai “unifying principle”.

Sumber : dari seorang sahabat:  freearief@yahoo.co.id

Selalu saja ada cerita cinta buat dinda

Tulisan Lepas  Tagged , No Comments »

Selalu saja ada cerita cinta buat dinda, sejak lembar demi lembar sakura menerpa lembut setiap lembut dinding kalbuku. Kini semua menjadi berbeda dalam penangkapan jiwa rindukan arti kelembutan cinta. Perjalanan yang jauh dan melelahkan telah menjadikan memori-memori kesucian dan keindahan arti cinta luntur dan mati suri. Tetapi hadirmu, bagaikan tetes air hujan dalam musim kemarau panjang, memberikan harapan dan kesejukan bagi makhluk yang hampir utus asa menantikan saat-saat pertolongan.
Kini, jiwa pun dapat bersukacita karena engkau telah semaikan benih-benih yang layu itu melalui segenap kelembutan dan pancaran kasih yang begitu murni dan dalam. Jangan pernah berhenti memberi arti cinta itu, karena jiwa telah menjadi berharap dan sangat ingin terbuai dalam hembusan kasih  di atas kuil dan altar cinta kala senja hari. Kaulah inspirasi jiwaku, yang mengalirkan cerita cinta menjadi ornamen-ornamen kehidupan insan bercinta. Selalu ada cerita cinta buat dinda.

KETRAMPILAN KOMUNIKASI ANTARPERSONAL

Kepemimpinan, Materiku  Tagged No Comments »

Apakah kita termasuk orang yang kalau berkomunikasi dengan orang lain suka ngelantur atau ngawur ?. Ciri-ciri orang yang seperti itu gampang dilihat. Yakni mereka yang diumpamakan selalu senang membuka mulutnya. Lalu layaknya diisi kedua belah kakinya sampai-sampai kalau ngomong tidak beraturan, atau tidak bermakna. Selain itu dicirikan pula oleh perilaku yang gemar ngomong tanpa tema pembicaraan yang jelas, bicara tidak kenal waktu, dan pada orang yang tidak tepat. Orang seperti itu dikelompokan sebagai mereka yang tidak memiliki ketrampilan komunikasi antar personal (KKAP).

Mereka yang piawai dalam KKAP biasanya dicirikan oleh kemampuannya dalam mengarahkan, memotivasi, dan bekerjasama secara efektif dengan orang lain. Selain itu mampu memahami pemikiran orang lain dengan jelas. Semuanya berbasis pada kesadaran diri. Jadi orang seperti itu, sebelum mampu memahami orang lain, seharusnya mampu memahami dirinya, perasaannya, keyakinannya, nilai pribadinya, sikap, persepsi tentang lingkungan, dan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang patut dikerjakannya. Hal demikian membantunya untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang adalah berbeda dalam hal ketrampilan dan kemampuan, keyakinan, nilai, dan keinginannya

Dalam implementasinya, KKAP harus merupakan bagian dari kehidupan pribadi dan sosial seseorang secara bersinambung. KKAP diumpamakan tidak ubahnya sebagai potensi proses pernapasan selama orang itu hidup. Atau sebagai perilaku yang hadir secara otomatis dalam kehidupan. Dengan kata lain seharusnya KKAP tidak timbul tenggelam hanya ketika dibutuhkan saja.

Dalam penelitiannya, Karpin Committee (1995) menyimpulkan bahwa para manajer di Australia membutuhkan pengembangan KKAP yang lebih banyak lagi. Komite itu menemukan bahwa KKAP merupakan unsur yang paling esensial dari keberhasilan seorang manajer.

Dalam hal ini Kris Cole (2005) merinci inti dari KKAP meliputi:

1. Komunikasi yang jelas. Gagasan cemerlang dan instruksi-instruksi penting dari seorang manajer menjadi percuma kalau tidak dipahami orang lain. Sementara itu lebih dari 75 persen waktu para manajer dialokasikan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu KKAP menjadi sangat penting.

2. Asertiv dan empati. Manajer bekerja dengan dan atau melalui orang lain. Jadi setiap pernyataannya harus mudah dipahami dan dimengerti orang lain seperti juga dia mampu melihat sesuatu dari pikiran atau pandangan orang lain tersebut.

3. Integritas. Cirri-ciri orang yang memiliki KKAP biasanya bekerja dengan jujur dan menghargai orang lain, yang berpegang pada etika, dan sistem nilai. Para manajer dengan integritas tinggi melakukan sesuatu sejalan dengan yang mereka katakan. Satunya kata dengan perbuatan, menghindari kecurangan, dan membangun kejujuran. “Say what they mean and mean what they say“. Para subordinasi umumnya percaya dengan sifat manajer yang mampu bekerja dengan benar dan akan mengikuti apa yang diarahkan oleh manajer tersebut.

4. Mendorong dan memotivasi. Kemampuan manajer dalam mendorong dan memotivasi serta meningkatkan spirit orang lain dalam mencapai hasil terbaik. Sesuatu yang terbaik adalah aset yang tinggi nilainya.

5. Respek pada orang lain. Manajer yang efektif adalah seseorang yang tidak lalai menghormati orang lain dalam hal perasaan, gagasan, aspirasi, dan kontribusi untuk organisasi dan luar organisasi.

6. Mampu sebagai pemain tim dan bekerjasama secara efektif. Manajer efektif adalah seseorang yang mampu bekerja sama dengan orang lain secara kooperatif di dalam organisasi (manajer lainnya, tim kerja, dan departemen lainnya) dan luar organisasi (publik, pemasok, kontraktor, pekerja musiman, dan pelanggan).

Keberhasilan seorang pemimpin, misalnya manajer, dalam mengelola karyawannya sangat berhubungan dengan bagaimana kemampuannya berkomunikasi. Membangun jalinan komunikasi yang efektif dan berkesinambungan antara pimpinan dan bawahannya, akan menjadikan organisasi tersebut mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kemampuan komunikasi antarpersonal dari sang manajer merupakan bagian dari pengembangan sumberdaya manusia para karyawannya. Dengan pendekatan tersebut diharapkan para karyawan pun secara bertahap akan mampu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi antarpersonal. Selain itu akan mampu meningkatkan suasana kerja yang nyaman dan pada gilirannya mampu meningkatkan kinerja para karyawan.

Karakteristik-karakteristik efektivitas komunikasi antarpersonal ini oleh Joseph DeVito (1986) dalam bukunya The Interpersonal Communication Book dilihat dari dua perspektif yaitu :

1. Prespektif Humanistik, meliputi sifat-sifat :

a. Keterbukaan (Openness)

Sikap keterbukaan dalam komunikasi antarpersonal ditunjukkan melalui dua aspek yaitu : 1) kita harus terbuka pada orang-orang yang berinteraksi dengan kita; 2) kemauan memberikan tanggapan kepada orang lain dengan jujur dan terus terang tentang segala sesuatu yang dikatakannya, begitu juga sebaliknya.

b. Perilaku Suportif (Supportivenness)

Komunikasi antarpersonal akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku suportif. Jack R Gibb menyebut 3 perilaku yang menimbulkan perilaku suportif yakni : 1) Deskriptif, orang yang memiliki sikap ini lebih banyak meminta informasi tentang suatu hal sehingga merasa dihargai; 2) Spontanitas, orang yang terbuka dan terus terang tentang apa yang dipikirkannya; 3) Profesionalisme, orang yang memiliki sikap berpikir terbuka, ada kemauan untuk mendengar pandangan yang berbeda, dan bersedia menerima pendapat orang lai bila pendapatnya keliru atau salah.

c. Perilaku Positif (Positivenness)

Sikap ini menunjuk 2 aspek yaitu : 1) komunikasi antarpersonal akan berkembang bila ada pandangan positif terhadap diri sendiri; 2) mempunyai perasaan positif terhadap orang lain berbagai situasi komunikasi.

d. Empati (Empathy)

Kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya sendiri pada peranan atu posisi orang lain.

e. Kesetaraan (Equality)

Kesetaraan ini mencakup dua hal yaitu: 1) kesetaraan bidang pengalaman di antara para pelaku komunikasi. Artinya, komunikasi antarpersonal umumnya akan lebih efektif bila para pelakunya mempunyai nilai, sikap, perilaku dan pengalaman yang sama; 2) kesetaraan dalam percakapan diantara para pelaku komunikasi. Artinya, komunikasi antarpersonal harus ada kesetaraan dalam hal mengirim dan menerima pesan.

2. Prespektif Pragmatis

a. Bersikap Yakin (Confidence)

Komunikasi antarpersonal ini terlihat lebih efektif apabila seseorang tidak merasa malu, gugup atau gelisah menghadapi orang lain.

b. Kebersamaan (Immediacy)

Sikap kebersamaan ini dikomunikasikan secara verbal maupun non-verbal. Secara verbal orang yang memiliki sifat ini, dalam berkomunikasi selalu mengikut sertakan dirinya sendiri dengan orang alin dengan istilah seperti kita, memanggil nama seseorang, memfokuskan pada ciri khas orang lain, memberikan umpan balik yang relevan dan segera, serta menghargai pendapat orang lain. Secara non-verbal, orang yang memiliki sifat ini akan berkomunikasi dengan mempertahankan kontak mata dan menggunakan gerakan-gerakan.

c. Manajemen Informasi

Seseorang yang menginginkan komunikasi yang efektif akan mengontrol dan menjaga interaksi agar dapat memuaskan kedua belah pihak sehingga tidak seorang pun merasa diabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan mengatur isi, kelancaran, arah pembicaraan, menggunakan pesan-pesan verbal dan nonverbal secara konsisten.

d. Perilaku Ekspresif (Expressivenness)

Memperlihatkan keterlibatan seseorang secara sungguh-sungguh dalam berinteraksi dengan orang lain. Orang yang berperilaku ekspresif akan menggunakan berbagai variasi pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, untuk menyampaikan keterlibatan dan perhatiannya pada apa yang dibicarakannya.

e. Orientasi Pada Orang Lain (Other Orientation)

Seseorang harus memiliki sifat yang berorientasi pada orang lain untuk mencapai efektivitas komunikasi. Artinya seseorang mampu untuk beradaptasi dengan orang lain selama berlangsungnya komunikasi antarpersonal. Dalam hal ini, seseorang harus mampu melihat perhatian dan kepentingan orang lain, mampu merasakan situasi dan interaksi dengan sudut pandang orang lain serta menghargai perbedaan orang lain dalam menjelaskan suatu hal.

Dalam prakteknya, komunikasi antarpersonal bertujuan untuk :

1. Mengenal Diri Sendiri dan Orang Lain

Komunikasi antarpersonal memberikan kesempatan pada kita untuk memperbincangkan diri kita sendiri pada orang lain sehingga akan mendapat perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita.

2. Mengetahui Dunia Luar

Komunikasi antarpersonal memungkinkan kita untunk memahami lingkungan kita secara baik, yakni tentang objek, kejadian-kejadian dan orang lain. Banyak informasi yang kita miliki sekarang ini berasal dari interaksi antarpersonal.

3. Menciptakan dan Memelihara Hubungan menjadi Bermakna

Komunikasi antarpersonal disini bertujuan menciptakan hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan demikian membantu mengurangi kesepian dan ketegangan, serta membuat kita bersikap lebih positif terhadap diri sendiri.

4. Mengubah Sikap dan Perilaku Orang Lain

Kita banyak mempergunakan waktu unutk mempersuasi atau mengajak orang lain melalui komunikasi antarpersonal.

5. Bermain dan Mencari Hiburan

Komunikasi yang berisi pembicaraan-pembicaraan yang dapat memberikan hiburan ini perlu dilakukan karena bisa memberi suasana yang terlepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan dan sebagainya.

6. Membantu Orang Lain

Kita sering memberikan nasihat dan saran kepada teman-teman yang sedang menghadapi suatu persoalan dan berusaha untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Tujuan-tujuan komunikasi antarpersonal yang diuraikan di atas dapat dilihat dari dua perspektif, yakni: Pertama, tujuan dapat dilihat sebagai faktor-faktor motivasi atau sebagai alasan-alasan mengapa kita terlibat dalam komunikasi antarpersonal. Dapat dikatakan, kita terlibat dalam komunikasi antarpersonal untuk memperoleh kesenangan, membantu orang lain, mengubah sikap dan perilaku seseorang. Kedua, tujuan-tujuan ini dapat dipandang sebagai hasil atau efek umum dari komunikasi antarpersonal. Dapat dikatakan, kita dapat mengenal diri kita sendiri, membuat hubungan lebih bermakna, dan memperoleh pengetahuan tentang dunia luar sebagai suatu hasil dari komunikasi antarpersonal. Dengan demikian, komunikasi antarpersonal biasanya dimotivasi oleh berbagai faktor dan mempunyai berbagai hasil atau efek.

Keterampilan Komunikasi Antar Personal (KKAP) dari seorang manajer biasanya dicirikan oleh kemampuannya dalam mengarahkan, memotivasi, dan bekerjasama secara efektif dengan orang lain (Sjafri Mangkuprawira; ronawajah.wordpress.com). Selain itu mampu memahami pemikiran orang lain dengan jelas. Semuanya berbasis pada kesadaran diri. Jadi manajer seperti itu, sebelum mampu memahami orang lain, seharusnya mampu memahami dirinya, perasaannya, keyakinannya, nilai pribadinya, sikap, persepsi tentang lingkungan, dan motivasi untuk memperoleh sesuatu yang patut dikerjakannya. Hal demikian membantunya untuk menerima kenyataan bahwa tiap orang adalah berbeda dalam hal ketrampilan dan kemampuan, keyakinan, nilai, dan keinginannya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan sang manajer dalam hal KAP sama saja dengan kemampuan pengembangan SDM dirinya sekaligus pengembangan SDM para karyawannya.

Sumber adaptasi:

Kris Cole, 2005, Management, Theory and Practice. Pearson Education. Australia dalam Tb. Sjafri Mangkuprawira. 2008. Horison:Bisnis, Manajemen, dan SDM. IPB Press. Bogor.

Artikel ini dan tulisan lain tentang tentang Pengembangan SDM dapat juga dilihat di Keterampilan Komunikasi Antarpersonal

Kontributor:
sjafri-150x150Prof. Dr. Ir. H. Sjafri Mangkuprawira seorang blogger yang produktif, beliau adalah Guru Besar di Institut Pertanian Bogor yang mengasuh berbagai mata kuliah di tingkat S1 sampai S3 untuk mata kuliah, di antaranya: MSDM Strategik, Ekonomi Sumberdaya Manusia, Teori Organisasi Lanjutan, Perencanaan SDM, Manajemen Kinerja, Manajemen Pelatihan, Manajemen Program Komunikasi. MSDM Internasional, Manajemen Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan,

Beliau adalah salah seorang pemrakarsa berdirinya Program Doctor bidang Bisnis dan dan saat ini masih aktif berbagi ilmu di Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang diri dan pemikiran-pemikiran beliau, silakan kunjungi Blog beliau di Rona Wajah

Sumber : www.indosdm.com


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in