Mentalitas Berkelimpahan

Materiku, Refleksi  Tagged No Comments »

Pondasi nilai mentalitas berkelimpahan lebih penting dari mentalitas kekurangan untuk membangun Tim Berkinerja Tinggi adalah sikap mental yang jarang bisa kita temui lagi di Indonesia, apalagi kalau anda menengok di jalan raya ibukota dan kota-kota besar lainnya. Tampaknya yang ada adalah sikap menta lyang berlawanan dengan mentalitas yang dibutuhkan untuk maju bersama.

Mari kita tengok mentalitas ini.

Mentalitas Berkelimpah-ruahan atau Abundance Mentality adalah sikap mental yang memandang bahwa dunia akan memberikan kecukupan dan tidak khawatir kehabisan apabila kita mau berkerjasama dan kreatif menciptakan sinergi. Orang yang memiliki mentalitas ini biasanya berlapang hati untuk berbagi dan bekerjasama serta tidak mudah menyerah untuk berusaha bersama.

Abundance Mentality dapat pula diartikan sebagai sikap ‘Legowo’, luas hati, gemar berbagi (sharing), dan suka melayani demi membahagiakan orang lain karena hal itu akan membuat dirinya juga bahagia. Mereka senantiasa berpikir “dan” bukan “atau” bahkan untuk pilihan-pilihan yang bersifat paradoksal sekalipun, karena mereka berani bersusah payah mencari solusi gabungan dari hal-hal yang berlawanan itu. Memilih atau berarti membuang yang lain, meniadakan kemungkinan mencari solusi ketiga yang bersifat sinergis. Memilih dan berarti harus berupaya memadukannya menjadi sesuatu yang baru, secara kimia menjadi zat baru yang berbeda dari unsur-unsur pembentuknya.

Sebaliknya adalah “scarcity mentality” atau mentalitas berkelangkaan yang dalam bahasa dan budaya Jawa digambarkan sebagai mental kere, yakni sikap mental yang memandang dunia ini langka, penuh kekurangan dan tidak pernah cukup, sehingga agar kebagian saya harus lebih dahulu merebutnya. Saya harus mendahului yang lain biarpun harus melanggar aturan yang ada. Persetan dengan akibat yang ditimbulkannya sekalipun akan membawa kekacauan atau kerugian pada orang lain.

Sebenarnya bukan dunia ini yang langka, tetapi pikiran dan hati manusia itu yang langka daya pikir dan kreativitasnya. Bukankah untuk memperoleh pendapatan yang tinggi kita tidak perlu menebang jutaan hektar hutan untuk hanya menjual gelondongan kayu yang nilainya cuma 10-20% dari produk jadinya. Bukankah produk jadi itu dapat didaur ulang untuk mengurangi konsumsi kayu gelondongan atau bahkan saat telah menjadi sampahpun dapat diolah menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya pohon-pohon baru. Atau, daripada mengambil kayu gelondongan, bukankah lebih untung menemukan dan memanfaatkan beribu jenis zat-zat berharga bagi pengobatan, kosmetika dan lain-lain dari tetumbuhan ikutan yang terdapat berlimpah didalam hutan dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada kayu gelondongan itu.

Mental kere, adalah mentalitas anak berumur 2 tahun. Karakter mereka dapat disimpulkan dengan dua kata : “Saya dulu!”. Semua berpusat pada ‘saya’. Sifat alamiah manusia ini memang lucu dan menggemaskan untuk si balita, tetapi sangat tidak lucu, norak serta menjengkelkan jika masih dimiliki oleh orang ‘dewasa’ yang selalu datang dengan “kebutuhanku, ideku, mau saya, keinginanku, pokoknya aku, saya, gue, beta, awak”.

Agar lebih memudahkan pemahaman, tabel dibawah ini menyajikan perbedaan sikap dan perilaku antara Mental Berkelimpah-ruahan dengan Mental Kere.

Dapat diperiksa bahwa perbedaan keduanya bersifat bertolak belakang atau berlawanan. Jelas juga terlihat bahwa Mental Berkelangkaan selalu berkonotasi negatif sedangkan sebaliknya, mentalitas Berkelimpah-ruahan berhubungan dengan hal-hal yang positif.

Sumber : SOBAT

Memimpin Bersama

Kepemimpinan, Materiku  Tagged No Comments »

Kepemimpinan bersama atau shared leadership merupakan konsekwensi logis (yang harus ditempuh) dari iklim keterbukaan (komunikasi dan hati) serta rasa saling menghargai dan percaya satu sama lain. Disamping itu tujuannya jelas deni membangun suasana yang mampu memberikan peluang setiap in dividu memberikan kontribusi ide ang beragam. keberagaman itulah yang aan menumbuhkan solusi ketiga yakni solusi bersama, yang bukan solusi dari pemilik ide orang per orang. Jangan lupa, solusi ketiga adalah solusi yang bersifat sinergis yangmamp memberikan hasil hebat, karena dibentuk oleh banyak kepala.

Karena itu SOBAT menerompetkan slogan “If two always agree, onlyone is needed!”. Jika anggota lain hanya bisa setuju saja, maka dia tidak diperlukan di dalam team.

Kepemimpinan bersama dicirikan terutama dalam bentuk pengambilan keputusan atau decision making berdasarkan kemufakatan bersama. Tidak ada hak veto dari orang-per-orang untuk memaksakan keputusannya, sebagaimana jamak terjadi di dalam organisasi formal struktural yang hirarkis. Setiap individu memiliki satu hak suara, tidak terkecuali bagi Team Leader.

Kesimpulannya:
Yang menjadi pusat, yang menjadi boss, dan yang membuat semua anggota team tunduk padanya adala “KEPUTUSAN” atau decision. Keputusan yang bersifat sinergis dan ‘owned’ oleh seluruh angota team akan menanamkan komitmen yang kuat untuk memperjuangkannya hingga berhasil.

Sang leader (yang ditunjuk berdasarkan kesepakatan) menempatkan dirinya sebagai bagian dari anggota team. Sang leader tidak berfungsi sebagai pemberi perintah, melainkan lebih sebagai fasilitator, akomodator dan komunikator di dalam team atau dengan pihak luar.

Segala aktivitas dalam PDCA sejak perencanaan (Planing), tindakan (Do), monitoring, analisa dan evaluasi (Check) serta langkah-langkah perbaikan (Action) diputuskan dan dilakukan bersama. Tentu, demi efisiensi dan efektivitas kerja diadakan pembagian tugas diantara anggota tim, namun secara esensial setiap individu diundang untuk memberikan kontribusinya.

Pembagian tugas tidak lantas menimbulkan sekat-sekat dan tembok pemisah yang rigid dan kaku sebagaimana di dalam organisasi struktural hirarkis.

Sumber : SOBAT

Mind Set: Inti Pembelajaran Diri

Materiku, Refleksi  Tagged 2 Comments »

Oleh: Sigit B. Darmawan

“…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable—if anything is excellent or praiseworthy—think about such things” (Apostle Paul to Philippians)

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistim kepercayaan atau sistim nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Karena itu kita harus memastikan agar pola pikir kita hanya dibentuk dan dipengaruhi dengan nilai-nilai yang baik dan benar.

Sebuah transformasi (perubahan) pola pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik.

Mind Set (Pola Pikir) adalah inti dari Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup kita.

Proses pembelajaran diri selalu dimulai dari perumusan visi dan misi hidup. Inilah yang akan memandu arah dan jalan keberhasilan kita. Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita dan menjadi seperti apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu sebuah mind set yang berkembang (growth mindset) yang akan menjadi katalisator dalam merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan mengubahnya menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan ketelatenan, usaha, dan komitmen yang kontinyu dan berkelanjutan, untuk menjadi berhasil, berkembang, dan berkualitas.

Seseorang dengan mindset berkembang akan selalu memandang bahwa bakat, kecerdasan, dan kualitas adalah sesuatu yang bukan given (sudah ditetapkan), tetapi bisa diperoleh melalui upaya-upaya tertentu. Karena itu hidup dalam pemanfaatan peluang dan tantangan untuk berkembang adalah jiwa dari orang dengan mindset berkembang ini. Keberhasilan dimaknai sebagai “berusaha lebih baik”, dan kegagalan dimaknai sebagai “kurangnya ketrampilan dan pengalaman”. Karena itu kegagalan perlu diresponi dengan sebuah upaya untuk bekerja lebih keras, lebih tekun, lebih bermotivasi.

Sebuah survey Gallup tentang “Karakter Orang-orang Sukses di Amerika” menjelaskan bahwa hampir semua orang yang berhasil, berkualitas dan berkembang kehidupannya, adalah mereka-mereka yang memiliki mindset berkembang, seperti: kerja keras, tujuan yang jelas, hasrat belajar yang tinggi, tidak pernah berhenti belajar pada satu bidang tetapi selalu mencoba bidang lain, menghargai kemampuan pengembangan logika, terus berusaha untuk berubah dan berkembang dan sebagainya. Hidup yang berkualitas dan berkembang bisa dicapai karena mindset yang benar sudah mendarahdaging dan menjelma dalam karakter, kebiasaan, sikap dan perilaku orang-orang sukses.

Tujuh Hukum Seorang Pembelajar (7 Laws of Learner)

Seorang pembelajar yang baik selalu mengikuti hukum-hukum yang menjadikannya pribadi yang pantang menyerah, selalu terbuka kepada perubahan, dan bersedia untuk berubah. Inilah Tujuh Hukum Seorang Pembelajar:

1. Kesuksesan itu menyangkut pembelajaran, pengembangan diri, dan proses menjadi lebih cerdas.

Tidak pernah ada kesuksesan tanpa pembelajaran. Tidak pernah ada pembelajaran jika tidak ada tujuan yang ingin dicapai. Belajar untuk menerima perubahan, tantangan, dan peluang. Belajar untuk selalu ingin tahu untuk peningkatan pengetahuan. Belajar untuk bersedia berubah dan berkembang.

2. Kecerdasan berkaitan dengan proses mempelajari sesuatu seturut dengan waktu; menghadapi tantangan dan menciptakan kemajuan.

Kecerdasan selalu bisa ditingkatkan melalui upaya yang tekun dan sungguh-sungguh. Itu bukan sesuatu yang ditetapkan. Walaupun beberapa orang memang dianugerahi dengan kecerdasan yang luar biasa, namun kecerdasan sejati adalah kecerdasan yang diperoleh dengan proses belajar, bersedia menghadapi tantangan, dan berhasil menciptakan kemajuan dalam setiap tahapan prosesnya.

3. Kegagalan sama sekali tidak menentukan nasib. Itu adalah persoalan yang harus dihadapi. dipelajari, dipecahkan, dan diambil hikmahnya.

Kegagalan bukanlah segala-galanya. Itu tidak menentukan masa depan kita. Dalam diri seseorang dengan mindset berkembang, kegagalan adalah sebuah persoalan yang perlu ditangani dan dipecahkan dengan usaha dan upaya yang lebih memadai dibanding sebelumnya. Kegagalan menjadi motivasi bagi orang dengan mindset berkembang untuk bekerja lebih baik, dengan fokus memperbaiki kelemahan dan kekurangan.

4. Upaya adalah sesuatu untuk menyalakan kemampuan dan mengubahnya menjadi pencapaian. Kemampuan dapat ditingkatkan.

Upaya itu diibaratkan sebagai pemantik api yang akan menggelorakan kapabilitas, kompetensi dan kemampuan orang apabila dilakukan dengan tekad dan komitmen yang kuat. Karena itu haruslah dipastikan supaya motivasi, tekad, dan komitmen tidak pernah padam dalam proses mentransformasi kemampuan menjadi pencapaian.

5. Keingintahuan (belajar) terus menerus tanpa akhir, serta pencarian akan tantangan.

Jiwa seorang pembelajar adalah hasrat yang tidak pernah berhenti untuk belajar dalam segala hal. Tidak ada waktu sedikitpun untuk berhenti dari hasrat itu. Mengembangkan rasa ingin tahu dengan mencari tantangan baru. Tidak pernah puas dengan kondisi sekarang, tetapi selalu mencari jalan untuk perbaikan dan pengembangan. Ketika hasrat itu padam, mati jugalah jiwa sang pembelajar

6. Bertanggung jawab terhadap proses-proses yang membawanya kepada keberhasilan dan mempertahankannya.

Setiap proses yang membentuk karakter dan kebiasan sukses harus dipertanggungjawabkan dengan mempertahankan proses tersebut, ketika tantangan menjadi lebih berat dan sulit. Walaupun mungkin proses tersebut harus diupayakan lebih keras, lebih tekun, lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya. Tetapi inilah arti pertumbuhan. Tidak akan pernah menghadapi situasi dan tantangan yang sama. Namun proaktif mencari situasi dan tantangan yang jauh lebih berat dan sulit dibandingkan sebelumnya. Seorang pembelajar haruslah memastikan untuk terus mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas karakter yang membawanya kepada keberhasilan sebelumnya. Inilah mentalitas sang juara

7. Bersedia menerima umpan balik dan kritik untuk peningkatan kualitas dan kemajuan

Umpan balik bisa menjadi obat maupun racun. Tergantung sikap dan mindset orang. Seorang pembelajar yang sadar akan proses, selalu mencari umpan balik untuk perbaikan yang dibutuhkan. Tidak pernah alergi dengan kritik yang bertubi-tubi, betapapun tajamnya kritik tersebut. Bagi seorang pembelajar banyaknya kritik tidak menentukan masa depannya, walaupun mungkin kritikannya memang benar. Jika kegagalan yang dihadapinya dan banyak kritik yang diperolehnya, seorang pembelajar dengan mindset berkembang akan terlecut hatinya untuk meningkatkan upayanya karena pola pikirnya yang menempatkan kegagalan sebagai kurangnya ketrampilan dan pengalaman. Kritik adalah obat yang menyehatkannya.

Memulai Menjadi Seorang Pembelajar

Jika ingin menimba keberhasilan dan menjadi pribadi yang berkualitas, tidak ada jalan lain bahwa kita harus mengalami transformasi mindset kita. Tidak mudah mengubah mind set lama dengan mind set baru, karena perubahannya yang bersifat radikal. Mengubah mindset berarti membongkar kebiasaan dan sikap kita yang lama dan membentuk sebuah karakter baru seorang pembelajar. Visi dan tujuan hidup akan menjadi katalisator perubahan tersebut.

Perubahan mindset ini harus diikuti dengan sebuah identifikasi: peluang dan tantangan apa saja yang kita hadapi dan bisa kita gunakan untuk berkembang. Peluang itu bisa untuk diri sendiri, profesi, maupun untuk orang-orang di sekitar kita

Dan ketika identifikasi itu sudah dilakukan, kita perlu menyusunnya dalam sebuah rencana aksi yang jelas dan terukur. Tentu dibutuhkan komitmen dan tekad yang kuat supaya rencana itu berjalan dengan baik. Jika kita menemui rintangan atau kemunduran, maka kita perlu menyusun ulang rencana berdasarkan umpan balik dan kritik yang kita terima.

Ketika keberhasilan sudah mulai bisa dicapai, kita perlu memikirkan bagaimana cara mempertahankan keberhasilan tersebut, bahkan melanjutkan dan meningkatkannya. Tentu ini adalah sebuah proses berulang (circle process) dalam pembentukan karakter, kebiasan, dan perilaku kita menjadi pribadi yang utuh, berkualitas dan berkembang. Jadilah seorang pembelajar yang baik.

Sumber : http://esbede.wordpress.com/2008/05/02/self-learning-pembelajaran-diri/

Perjalanan Menuju Kesejatian

Materiku, Wisdomania 2 Comments »

Setiap manusia dewasa tentu pernah merindukan sebuah pencerahan.
Apakah pencerahan itu dalam konteks spiritualitas, maupun dalam
kerangka pengembangan diri. Orang-orang yang mampu menjaga
kerinduannya akan pencerahan mempunyai kesempatan untuk secara
konsisten membawa dirinya menuju kepada kesejatian hidup. Yaitu;
menjadi manusia yang bisa mewujudkan tujuan atas penciptaannya.
Ngomong-ngomong; apakah sesungguhnya tujuan pencipataan kita ini?

Dimusim hujan seperti ini banyak laron beterbangan menjelang malam
tiba. Ketika mahluk sejenis ngengat itu sudah mencapai titik tertentu
dalam perkembangan siklus hidupnya, dia dianugerahi penciptanya
dengan sepasang sayap. Sayap itu memungkinkan dirinya untuk terbang
menuju suatu tempat yang jaraknya sering teramat jauh. Mereka keluar
dari tempat persembunyian disisa-sisa kayu dan pepohonan mati.
Kemudian terbang menuju satu titik yang pasti, yaitu; sumber cahaya.
Ditempat itu, mereka bertemu dengan laron-laron lainnya, sehingga
pertemuan itu bagaikan sebuah konferensi besar para pencari cahaya.

Adakah para laron itu ingin menyampaikan sebuah pesan? Kelihatannya
memang demikian. Melalui apa yang dilakukannya, para laron
mengingatkan kita betapa pentingnya menghadapkan diri kearah sumber
cahaya. Karena, menuju cahaya adalah sebuah fitrah bagi setiap
manusia. Didalam diri kita, ada sisi gelap. Dan ada pula sisi terang.
Jika kita tidak pernah menambahkan cahaya kedalamnya, maka sisi gelap
kita akan menjadi semakin banyak. Sedangkan, sisi terang akan semakin
berkurang. Untuk menjadi gelap; kita tinggal berdiam diri saja.
Karena cepat atau lambat dunia kita pasti menjadi gelap. Sedangkan
untuk mendapat terang, kita harus melakukan usaha-usaha yang sepadan.
Karena menanti dengan berdiam diri tidak memberikan jaminan datangnya
cahaya terang.

Bagi sang laron, menuju sumber cahaya adalah langkah paling akhir
misi hidupnya. Sedangkan bagi manusia, seberkas cahaya didalam
dirinya menyala melalui setiap perilakunya yang terpuji. Seperti
ketika mereka menghitung langkah satu, dua, tiga, dan empat; semuanya
berjalan membentuk sebuah untaian proses pencerahan jiwa. Kemudian,
tepat pada hitungannya yang kelima; mereka melakukan langkah terakhir
dalam hidupnya untuk menuju sang pemilik cahaya sesungguhnya.
Ditempat itulah kemudian mereka, berkumpul dengan para pencari cahaya
lainnya. Duduk bersimpuh disebuah lapangan luas, untuk mendekatkan
diri kepada sang pemilik cahaya sejati.

Setelah sampai disumber cahaya itu, tunailah sudah misi hidup seekor
laron. Dan setelah tiba disumber cahaya sejati itu; tunailah sudah
perjalanan panjang seorang manusia. Karena, ketika itu; kita bisa
menjelma menjadi manusia yang tercerahkan oleh cahaya kesejatian.
Seseorang yang berhasil melakukan perjalanan itu sesuai dengan
panggilan sang pemilik cahaya akan memasuki babak baru dalam siklus
hidupnya, yaitu; menjadi manusia sejati. Manusia yang memiliki
kematangannya secara spiritualitas, maupun fungsi sosial
kemasyarakatan. Sedangkan, mereka yang hanya matang secara spiritual,
tetapi tidak berfungsi secara sosial belum benar-benar mencapai
kesejatian itu. Sebaliknya, mereka yang secara fungsi sosial matang
tetapi melupakan kematangan spiritual adalah orang-orang yang hanya
bagus dimata sesama manusia. Namun, dihadapan Tuhannya; nilainya
layak dipertanyakan.

Bagi seekor laron, menuju cahaya adalah sebuah perjalanan sekali
seumur hidup. Oleh karena itu, seekor laron; mengerahkan semua yang
ada dialam dirinya untuk perjalanan suci itu. Dan ketika cahaya telah
memenuhi dirinya; dia menanggalkan sayap-sayapnya. Perlambang apakah
ini bagi kita? Sang laron tengah mengajari kita bahwa jika sudah
sampai kepada sumber cahaya, maka kita harus meneguhkan hati untuk
menutup segala kemungkinan yang bisa membawa kita kembali menuju
kegelapan.

Jika sayap itu masih dipeliharanya; maka cepat atau lambat, dia akan
tergoda untuk terbang menuju gelap. Dengan menanggalkannya, sang
laron menutup semua kemungkinan itu, supaya dia bisa memberikan
totalitas dirinya didalam terang itu. Meski untuk mendapatkannya, dia
harus mengorbankan sepasang sayap yang dimilikinya. Manusia tengah
diseru oleh sang laron, untuk juga melakukan pengorbanan yang sama.
Yaitu pengorbanan untuk membuang nafsu-nafsu yang sering menyeretnya
kepada sifat buruk. Dan menanggalkan sifat-sifat tak patut didalam
dirinya. Sehingga, ketika kita kembali pulang; kita benar-benar hanya
membawa cahaya putih lagi bersih. Sebersih jiwa seorang bayi yang
baru saja dilahirkan.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Keutuhan pribadi seseorang ditandai dengan kesediaannya untuk
membangun nilai dimata sesama melalui tindakannya, dan dimata
Tuhannya melalui kepasrahannya.

Mature Leader

Kepemimpinan, Materiku 1 Comment »

Sering kali ketika saya mengajar di kelas-kelas leadership, muncul perdebatan, soal apakah kematangan emosi (“emotionally mature”) menentukan seorang pemimpin layak disebut sebagai pemimpin yang matang? Banyak keluhan dari para eksekutif, sulit menemukan pemimpin yang handal tapi matang? Berangkat dari paradigma bahwa pemimpin diciptakan, bukan dilahirkan (Vince Lombardi, John C. Maxwell), maka bukan hanya emosi yang di”matang”kan , tetapi juga cara pemimpin bersikap, tingkat intelektualnya, level “passion”nya dan kematangan spiritualnya. Ke lima (5) kompetensi ini perlu dimatangkan oleh seorang “mature” leader (pemimpin matang) agar ia mampu mencerahkan pengikutnya.

Emotionally mature (soul). Barack Obama, 47 tahun, bagi kita adalah contoh elegan dari pemimpin yang matang secara emosi, meski ia muda belia. Ia tidak pernah nampak emosional dalam keseluruhan kampanyenya. Ia memiliki 3 kualitas kematangan emosi yang tinggi, yaitu: tetap tenang, selalu arif dan nampak stabil meski hujatan dan serangan kubu McCain menghujaninya secara dahsyat terhadap dirinya & tim suksesnya. Pada akhirnya, ia bisa keluar sebagai pemenang dari pergulatan debat panjang pemilihan presiden Amerika. Hanya pemimpin yang matang emosinya yang bisa memenangkan “permusuhan” tajam yang melukai hati dan batin. Sebaliknya, pemimpin yang kurang matang (gelap mata), akan terjungkal dalam sikap emosional yang membuatnya tergesa-gesa mengambil keputusan, lalu membuat kesalahan dan kalah. Jika ia kalah, mencaci lawannya. Jika menang, ia berpesta-pora tak terkendali. Matang secara emosi berasal dari matang secara jiwa, tanda-tandanya a.l. adalah berjiwa besar, berhubungan dengan siapa saja secara baik, beretika tinggi. Obama juga dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pemimpin yang matang (change-value leader) seperti: rendah hati (“humble”), integritas dan passion.

Bagaimana cara mengasah kecerdasan emosi pemimpin? “Sejak kecil perlu ditanamkan kesadaran berjiwa besar. Jika sudah kalah, segeralah mengaku kalah, itu terhormat, tidak memalukan atau mencemarkan nama baik. Tindakan itu justru menunjukkan kebesaran jiwa, kedewasaan, dan sikap ksatria (Kompas, “Belajar Mengaku Kalah” oleh Salahuddin Wahid, 15 Nov 2008). Banyak pemimpin kita, kalah di bidang ini. McCain adalah contoh “loser” yang berjiwa besar. Ia mendoakan Obama dan ikhlas dipimpin Obama sebagai presidennya.

Matang sikapnya (behavior). Baru-baru ini saya dan peserta kelas leadership sama-sama membedah kualitas kepemimpinan Barack Obama dan satu pemimpin dari Indonesia yang dikategorikan pemimpin matang dan sukses. Ditemukan bahwa, dari ke dua (2) pemimpin tsb., ada 6 sikap matang mereka yang paling menonjol a.l. selalu ikhlas bekerja keras, tetap jujur, bertanggung jawab, sangat peduli, konsisten dan mengayomi timnya. Ke-6 sikap ini (sering disebut sebagai sikap super positif oleh kalangan pemimpin), ternyata mampu melejitkan prestasi yang tak terbatas dari keduanya. Sebaliknya, ada GM tua, 50th, yang sikapnya belum matang, meski usianya matang dan ternyata prestasinya biasa-biasa saja.

Benar nasehat Zig Ziglar, motivator dunia, “It is not your aptitude, but it is your attitude that determines your altitude.” Sikap yang besar bersumber dari kematangan jiwa. Pemimpin yang matang, cenderung mengayomi, dibandingkan pemimpin yang kekanak-kanakan. Jika ke-2 pemimpin itu kekanak-kanakan sikapnya (bukan usianya), maka keduanya, tidak akan meraih posisi tinggi dalam organisasinya. Terbukti, yang satu presiden Amerika dan satunya CEO perusahaan lokal terkemuka di negara kita.

Intelektualnya mumpuni (mind). Tak diragukan lagi, saat Mahmoud Ahmadinejad sebelum terpilih menjadi Presiden Iran, ia menguasai benar sikap kebijakan luar negeri Iran terhadap Amerika, persoalan nuklir dan energi dunia. Demikian juga dengan Obama, ia fasih benar mengkomunikasikan visinya tentang perang di Iran dan Afganistan, solusi ekonomi global, tentang keamanan Amerika serta program kesejahteraan rakyat Amerika di kelas bawah dan menengah. Ia membawakan tema perubahan (”change”) yang cerdas dan mencerahkan bukan saja bagi Amerika tetapi juga di dunia yang sedang demam ”Obama”.

Di bidang ini, banyak rasanya calon pemimpin Indonesia di 2009, juga mumpuni secara intelektual. Tetapi apakah mereka, juga memiliki sifat kematangan yang lainnya? Jangan-jangan mereka diusung karena kemudaannya? Kata kunci untuk matang secara intelektual, ternyata bukan ijasah atau gelar, melainkan (1) kematangannya untuk terus belajar (“learning spirit”) dan (2) menguasai persoalan yang dihadapinya (“issue mastering”). Ciri dari pemimpin berintelektual tinggi adalah kepandaiannya dalam memilih alternatif solusi yang tersedia, memilah-milahnya dan memutuskannya dengan bijak dan elegan. Kecerdasan bukan hanya genius, jika itu harus genius, melainkan terampil berjalan dalam badai masalah.

“Passion”nya tak diragukan (heart). Salah satu kriteria pemimpin pemenang adalah mampu mengendalikan situasi kritis yang dihadapinya. Saya menyebut “passion” sebagai “gut” (gigh, ulet, tekun). Artikel Gill Corkindale dalam Harvard Business Publishing, 7 Nov 2008 dengan judulnya “The World’s First 21st Century Leader”, ia menyebutkan Obama sebagai pemimpin abad 21 ini. Menurutnya, Obama layak diusung dan dinobatkan, karena fleksibilitasnya, humilitasnya, adaptabilitasnya, dan ketahanannya (“resilience”). Andapun bisa memperdebatkan soal ini?

Jim Collins dalam bukunya yang fenomenal “Good to Great”, menyarikan 2 kualitas pemimpin super sukses dunia, memiliki (1) ketegaran hati yang tidak tanggung (“resilience”) dan (2) mendemonstrasikan kerendahan hati yang “humble” (“humility”). Pemimpin yang matang, biasanya selalu dewasa (baca: tegar hati) dan rendah hati. Keinginannya sangat kuat untuk meraih apa yang diimpikan. Orang menyebutnya “result-oriented”, daya juangnya terhadap kinerja sangat tinggi. Ia tak mudah menyerah, tapi tidak sombong dan arogan. Sedangkan pemimpin yang tidak matang, biasanya selain manja (baca: tidak memiliki “passion”), yang menonjol malah arogansinya. Jika kita memiliki pemimpin jenis ini, bakalan organisasi kita atau negara kita akan mengalami kesulitan. Kita sudah pernah memiliki pemimpin jenis ini, bukan?

Matang secara spiritual (spirit). Krisis moral (baca: kalah dengan egonya) tak lain diakibatkan oleh krisis spiritual. Pemimpin yang matang secara spiritual biasanya tak mementingkan dirinya sendiri. Ia matang dalam memelihara amanah sorga yang diberikannya yaitu, berbagi kebaikan, kemuliaan dan kehormatan. Itu semua dilakukannya karena ketulusannya untuk berkorban bagi pengikut yang dipimpinnya.

Tiga (3) ciri pemimpin matang secara spiritual, bukan semata-mata usianya, (1) sedikit bicara, banyak berbuat bagi pengikutnya, (2) catatan integritasnya (kejujurannya) sangat baik (3) pembawa damai dan keteduhan bagi pengikutnya. John C. Maxwell menasehatkan kepada para pemimpin: ”Yang pertama harus dipimpin oleh setiap pemimpin di level mana saja, adalah memimpin moralnya sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu memimpin orang lain.” Dalam hal yang satu ini, banyak pemimpin kita belum lulus.

Indonesia menunggu pemimpin matang yang mencerahkan sekaliber Barack Obama, yang telah lulus ujian dari ”nobody” ke ”somebody”. Bukankah demikian?

Penulis :
Harry “uncommon” Purnama, Trainer “Mature Leadership”

Secuil Pencerahan: “Silence & Strenght” (Mature Leader)

Kepemimpinan, Materiku No Comments »

Silence, berdiam diri! Ada sahabat selalu bertanya, “bagaimana mengelola kalbu?” Sekali lagi, hati disini adalah kalbu (the heart), non-fisik, tak nampak, tapi terasa dahsyat, bukanlah segumpal daging, bukan organ tubuh. Ia tempat dimana kita jatuh cinta. Ingat ungkapan yang sangat dekat dengan telinga kita, “kekasih hatiku dambaan kalbuku, belahan jiwaku..(soul mate, hmmm)!” “Hatiku menari-nari, jiwaku melompat-lompat..”.ungkapan yang menggetarkan, bukan? Itulah cara kerja dan fungsinya hati (kalbu). Orang sering memegang dadanya untuk menunjukkan hatinya sedang tersentuh atau bergelora atau sedang sedih. Tapi, “the heart” dalam bahasa Inggris, artinya selain hati (kalbu) juga berarti organ jantung secara fisik. Lalu kata sahabat, “Apakah mengelola kalbu sama saja dengan bagaimana menemukan dan mengelola cinta?” Hati sangat dekat dengan rasa cinta. Cinta adalah sifat Tuhan yang utama. Tuhan berarti ketenangan dan kedamaian. Itu sifatNya. Itu ciri khas cintaNya, ketenangan dan kedamaian. Jawaban mudahnya, ternyata melalui jalan “silent” (adjective: berdiam diri) ungkap Mother Theresa yang telah mengerti banyak tentang makna hidup dan makna cinta. Ia mengartikan cinta sebagai Tuhan yang penuh kasih sayang. Hening, tenang, berdiam diri adalah jalan menuju kepada doa. Doa jalan menuju kepada iman. Iman jalan menuju kepada cinta. Cinta adalah jalan menuju kepada pelayanan. Pelayanan jalan menuju kepada kedamaian. Dan cinta adalah kekuatan hakiki nan abadi, karena ia adalah sifatnya Tuhan. Cinta itu kemudian melahirkan kebahagiaan hati, merasa damai, merasa tenang, merasa cukup dan merasa senang meski sedang dilanda kesedihan, di PHK dari kerjaan. Berdiam diri bagi pemimpin adalah kekuatan. ”Tengoklah kedalam” potongan syair Ebiet G. Ade tsb. cocok menggambarkan, ada kekayaan yang sudah lama kita tinggalkan. Apa itu? Lupa menengok kedalam, lupa melihat ke dalam diri, lupa bahwa disana ada kekuatan besar, cinta nan abadi, bukan diluar, bukan pada materi dan ciptaan. Materi dan harta, istilah Emha Ainun Najib, 55th, “mata’ul ghurur”, perhiasan dunia, kata Adolf Posumah dari Manado, “tai macan”, sesuatu yang harus dibuang keluar, tak berguna. Di luar sana, “uang” banyak yang menyamakan dengan hipokrisi dan kepalsuan yang bertele-tele, kekerdilan mental, kebutaan spiritual, mau cepat kaya, kebrutalan dan kesesatan ilmu serta kesesatan perilaku. Yang semuanya itu jauh dari ketenangan batin kita, bukan? “Untuk menangani kegundahan diri sendiri, gunakanlah akal Anda. Untuk menangani orang lain, gunakanlah hati Anda” (John C. Maxwell). Nampaknya leadership itu memang a relationship of many hearts (bukan komunikasi dengan uang). Dengan menengok kedalam, terang hati akan memancar dengan hebat, semakin keras dan semakin terang. Begitu ”terangnya” terpancar, gairah cinta itu akan menjalar ke seluruh pikiran dan rasa (”the power of unconditional love”). Begitu pikiran dan rasa tersentuh, seluruh tubuh tergerak. Ia akan menggerakkan moralitas dan karakter. Menjadi jujur, itulah upah dari terang kepemimpinan. Ketika terang hati menjelma menjadi sebuah kekayaan moral, orang di sekitar akan melihat terang itu, mereka dapat merasakannya. Mengapa? Mereka melihat ”walk the talk” berjalan di hidup Anda. “Bagai air bening dari sumber mata air jernih yang terus mengaliri selokan yang kotor, lama-kelamaan selokan akan jernih juga.” Anda dan saya lalu disebut, telah melakukan apa yang sering Anda & saya bicarakan di ruang meeting kantor atau di kelas training/seminar, yaitu kejujuran (integrity, honesty, the best value). Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda teorikan, yaitu kebaikan. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda janjikan, yaitu kepedulian. Anda kini telah melakukan apa yang sering Anda impikan, yaitu kemuliaan. Kejujuran, kebaikan, kepedulian dan kemuliaan itu semua adalah buah-buah Roh yang Maha Tinggi yang ingin diwujudkan dalam perilaku dan tindakan para pemimpin. Diwariskan, diturunkan, dijadikan nyata. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” kata Emha Ainun. Emha pemimpin gerakan iman dan budaya, percaya bahwa pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya. ”Selagi ada tangan yang masih bersih, tangan yang kotor masih bisa dibersihkan..” (Harry uncommon). Lalu, apa yang akan terjadi jika Anda berubah jadi lebih tenang dan lebih damai? Inilah ekspresi-ekspresi awal dari orang terdekat Anda, ”Tumben, tenang banget bos kita.., keren?? Gak salah nih bos..? Serius bos? Besok lagi ya bos..he..he..!” Terang itu begitu kasat mata. Pemimpin yang baik, akan nampak oleh anak-anak buahnya. Pemimpin yang jahat juga lebih kelihatan. Keheningan menyelamatkan kita. Ketenangan pemimpin sumber kedewasaannya, sumber kematangannya (its source of maturity). “Anda tidak bisa berjabat tangan dengan tangan terkepal” (Indira Gandhi). Makanya orang-orang yang matang, gesturenya selalu open, terbuka, bersinar ingin membuka persahabatan dengan lingkungan sekitarnya. Matang lawannya mentah. Buah matang, empuk. buah mentah, keras. Salah satu kompetensi pemimpin matang (emotionally & attitude) ya tenang, sabar dan bijak. Kalau buah ia empuk. Bukan emosi & pikiran saja yang dibebaskan, tubuh juga dimerdekakan dari perbudakan kegelapan. Tubuh juga siap melakukan perubahan-perubahan. Tubuh akan kini ikhlas untuk menderita dan menerima ketidaknikmatan. Yang tersulit dari perubahan itu adalah mengajari tubuh. Ia maunya nikmat terus, senang terus, enak terus, kenyang terus. Gairah terang hati yang kini telah menjalari tubuh jasmani itulah, yang akan menutupi sensor-sensor kesenangan dan kenikmatan semu. Sensornya diganti. sensor derita dan pengorbanan yang kini mulai menguasai tubuh. Jika tubuh sudah dalam kendali sensor baru ini, kesakitan, kelaparan, deraan, pukulan bahkan pancungan kepalapun tidak akan ditakuti lagi oleh tubuh yang berani {“bold”). Contoh, dalam bertinju, otak akan mengeluarkan sensasinya. Dengan keagungan Tuhan, sang otak yang mengendalikan tubuh kita, mengeluarkan hormon endorphin. Tubuh petinju tak akan terasa sakit di-uppercut oleh lawan, juga di berondong jab oleh lawan, ia tetap berdiri, tidak roboh, tahan banting. Tulang rusuk yang patah tak terasakan. Itulah sensasi dari sensor otak yang sudah diubahkan, menjadi super kuat. Tubuh sudah dikendalikan oleh sensasi otak. Otak mengambil alih fungsi tubuh. Tubuh tinggallah hanya tulang, daging, kulit dan selulit. Tubuh merasakan derita tetapi tidak sedahsyat sebelumnya. Itulah mengapa Panglima Sudirman mampu bertahan gerilya keluar masuk hutan gelap dengan derita sakit paru-parunya yang gawat dan dahsyat ketika itu. Tubuhnya tidak lagi merasakan sakit. Masuklah kedalam, anda akan menemukan kekuatan hati. Kekuatan diri. Orang menyebutnya ”work with passion” (bekerja dengan kekuatan gairah yang tinggi dan intense feeling). Rahasia passion. Sebagai contoh nyata lainnya, Mahatma Gandhi mengapa mampu bertahan dalam siksaan fisik yang hebat? Ia sering menerima tendangan sepatu lancip sipir penjara dan puasa tanpa makan sepanjang hidupnya. Sampai akhirnya, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dirinya ditembak oleh warganya sendiri yang beragama Hindu. Kenapa tahan? Ya, passion dari ketenangan dan kekuatan. Jika hari ini anda merasa tertekan & malu karena belum bisa naik mobil BMW ke kantor padahal anda seorang Direktur, itu masih belum apa-apa dibandingkan derita tubuh sepanjang hidup Panglima Sudirman dan Mahatma Gandhi. Hanya jika terang hati menguasai tubuh dan rasa, maka segala derita menjadi seperti ke titik zero. Masih ingat orang pajak yang ke kantor naik motor, meski sesungguhnya ia bisa menerima suap sebuah BMW 318i baru? Ingat kepala sekolah SMA yang menyapu sekolahnya setiap hari meski ia bisa memberi perintah saja kepada tukang sapu sekolah? Ingat seorang janda yang jualan pisang goreng keliling berjalan kaki hingga sakit asma berat, hanya karena tanggung-jawabnya untuk menyekolahkan anaknya sampai lulus di UGM? I
ngatkah perjuangan keras Andrie Wongso motivatir sukses dari Malang, yang tidak pernah lulus SD, harus berjualan kue yang dibuat ibunya sendiri, selagi teman-temannya pergi ke sekolah? Mengapa mereka melakukan semuanya itu? Anda kini sudah tahu jawabannya, bukan? Jika hari ini hidup Anda tidak dikuasai oleh keserakahan, maka kebesaran hati sudah menjadi milik Anda. Penuturan Peter F. Drucker: “Kita hidup di era peluang yang tak terduga, kesempatan begitu banyak. Jika memiliki ambisi, cerdik dan jujur, Anda akan dapat menaiki puncak profesi pilihan Anda, tanpa memandang dari mana Anda memulai. Tokoh besar lainnya seperti Napoleon, Da Vinci, Mozart, dan seniman besar lainnya, dapat kita teladani dalam mengelola diri sendiri yang diwujudkan dalam karya. [Classic Drucker, 2007]. Keberhasilan mengelola diri sendiri dan karya akan membawa semua pribadi berhasil, termasuk Anda. Masuklah kedalam, Anda akan menemukan kekuatan hati (Harry uncommon).

Sumber : milist IDNLP (oleh Harry Uncommon)

Kisah Empat Pendekar Sakti

Materiku, Wisdomania No Comments »

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah program pelatihan. Dalam
pelatihan itu para peserta diberikan kesempatan untuk mempraktekan
apa yang biasa kita sebut dengan ‘mind power’. Secara teoritis, orang-
orang yang dapat menggunakan mind power dalam pelatihan itu akan
mampu untuk melakukan tiga tantangan yang tampaknya tak gampang.
Tantangan pertama menjatuhkan bola lampu dari ketinggian tertentu
menimpa keramik yang biasa digunakan sebagai lantai rumah. Tetapi
yang pecah keramiknya, bukan bola lampunya. Tantangan kedua, tingkat
kesulitannya lebih tinggi karena harus mematahkan sebatang besi
dengan menggunakan kertas koran. Dan, yang lebih sulit dari itu
adalah mematahkan sebatang pensil dengan menggunakan kertas HVS. Anda
percaya semua itu bisa dilakukan? Mind power bisa membantu
menyelesaikannya.

Ketika orang-orang mencoba semua tantangan itu, saya teringat sebuah
kisah klasik tentang seorang sakti dengan ketiga muridnya. Saat
kesaktian para muridnya sudah sangat tinggi, sang guru tahu bahwa dia
harus segera pergi. Untuk itu dia harus mempercayakan perguruannya
kepada penerusnya. Setelah itu, Sang Guru akan memasuki tahap akhir
dari misi hidupnya, yaitu; pergi melanglangbuana. Pertanyaannya
adalah; kepada siapa dia harus memberikan kepercayaan itu? Ketiga
muridnya sama-sama sakti. Sama-sama baik. Dan sama-sama hebat.
Akhirnya, Sang guru memutuskan untuk memberikan tiga jenis ujian.

Ujian pertama menjatuhkan sebutir telur dari puncak tebing menimpa
batu cadas, namun telur itu tidak pecah. Ini tugas yang paling
gampang. Kedua, mengosongkan air di telaga dengan menggunakan jari
telunjuk. Tentu yang ini agak sulit. Dan yang ketiga, membuat ukiran
hati masing-masing pada lempengan besi hanya dengan menggunakan
tatapan mata. Pastilah tantangan ketiga ini yang paling sulit
dilakukan. Sedangkan untuk meneyelesaikan semua tantangan itu, mereka
hanya diberi waktu selama tiga hari. Barangsiapa bisa menyelesaikan
ujian itu; maka dia mendapatkan warisan perguruan beserta seluruh
aset yang ada didalamnya.

Dihari yang ditentukan, para murid menghadap Sang Guru. Lalu Sang
Guru memberi kesempatan kepada murid pertama untuk menunjukkan semua
yang sudah dilakukannya. Dia membawa telur ayam itu dalam keadaan
utuh, sedangkan batu cadas yang tertimpa hancur berantakan. Pastilah
dia memiliki ilmu gingkang yang sangat tinggi sehingga bisa
dipindahkan kepada sebutir telur. Lalu, dia menunjukkan telaga yang
kering kerontang. Tak setetes pun air yang masih tersisa didalamnya.
Membuktikan bahwa dia bisa melakukan pekerjaan besar hanya dengan
menggunakan telunjuknya. Kemudian, dia menyerahkan sebongkah besi
baja yang berukir hati dengan ukuran yang sangat besar. Ini
membuktikan bahwa tatapan matanya begitu kuat sehingga baja sekalipun
tunduk kepadanya.

Sang Guru kemudian berkata; “Muridku, ukuran hati kamu begitu
besarnya. Mengapa bisa demikian?”
“Guru,” sang murid sakti menjawab, “saya memiliki kebesaran hati
untuk menjalani segala sesuatu dalam hidup ini.” lanjutnya. “Saya
tidak gentar menghadapi apapun. Karena saya yakin bahwa saya bisa
menyelesaikan segala sesuatu dengan baik.” Dia menjelaskan dengan
semangat yang berapi-api. Sangat terasa aura kebesaran hati yang
dipancarkannya.

Murid kedua mendapatkan gilirannya. Dia menunjukkan semua bukti
kesaktiannya, seperti murid pertama. Namun, ukiran hati dalam
lempengan besi itu ukurannya sangat kecil sekali, hingga nyaris tidak
kelihatan. Sang guru bertanya;”Muridku, aku lihat ukuran hati kamu
sebegitu kecilnya. Mengapa bisa demikian?”

“Guru,” jawab sang murid sakti, “ciut hati saya jika harus melakukan
suatu keburukan. Saya sangat takut kalau harus melakukan hal-hal yang
melanggar norma dan etika.” Lanjutnya. “Saya tidak memiliki cukup
keberanian untuk mempertaruhkan kehormatan.” Dia menjelaskan dengan
mata berkaca-kaca. Sangat terasa aura kerendahan hati yang
dipancarkannya.

Lalu, tibalah giliran murid ketiga. Dia membawa telur utuh, dan batu
karang yang hancur lebur. Dia juga menunjukkan lempengan baja yang
berlubang membentuk hati. Namun, ketika ditanya tentang telaga, sang
murid menjawab; “maaf guru, saya tidak mengosongkan telaga itu,”
katanya. “Mengapa?” begitu Sang Guru bertanya.

Sang Murid mengatakan bahwa setelah berhasil menyelesaikan tugas
paling mudah – menjatuhkan telur diatas batu cadas – dia berpikir
untuk langsung menyelesaikan tugas yang paling sulit, yaitu; mengukir
hati pada lempengan besi hanya dengan menggunakan tatapan mata.
Sebab, jika tugas paling mudah dan paling sulit bisa dituntaskan,
pasti tugas yang sedang-sedang saja bisa terselesaikan. “Tetapi,”
kata Sang Guru, “Kamu tetap harus membuktikannya terlebih dahulu.”

“Benar, Guru,” jawab sang murid. “Semula saya berpikir untuk
mengeringkan telaga itu. Tetapi,” lanjutnya. “Setelah membuat lubang
tembus pandang berupa hati dibesi itu; seolah saya bisa memasukinya,
dan tiba-tiba saja saya merasakan hati saya berbicara.” katanya.

“Apa yang dikatakan oleh hatimu?” tanya Sang Guru.
Sang murid menceritakan bahwa ukiran hati pada baja itu
berkata; “Setelah ujian paling sulit kamu taklukan, pastilah kamu
bisa menyelesaikan ujian yang lebih mudah. Tetapi, jika kamu
menyelesaikan ketiga ujian itu, maka kamu berubah menjadi sombong,”
katanya. “Saya tidak ingin hati ini berubah menjadi sombong,”
lanjutnya. “Jadi, saya memutuskan untuk tidak mengeringkan telaga
itu.”

“Aku mengerti,” kata Sang Guru. “Namun, tahukah kamu bahwa tidak
melakukannya berarti kehilangan kesempatan untuk mendapatkan warisan
perguruan?” Sang murid mengangguk. Dia menerima konsekuensi atas
keputusannya. “Bukankah kamu tahu bahwa mewarisi perguruan ini
merupakan dambaan semua orang?” Sang Guru meyakinkan. Sang murid
kembali mengangguk. “Bukankah dengan mewarisi perguruanku, kamu akan
mempunyai kedudukan tinggi dan dihormati?” Lanjut Sang Guru. Sang
murid tetap pada keputusannya; melepaskan kesempatan memiliki
perguruan itu.

Lalu, Sang Guru membagi dua perguruan itu. Setengahnya diberikan
kepada muridnya yang memiliki ukuran hati besar. Diperguruan itu,
kemudian dia mengajarkan tentang optimisme, semangat pantang
menyerah, dan kebesaran hati. Setengahnya lagi diberikan kepada
muridnya yang mempunyai ukuran hati sangat kecil. Diperguruan itu,
kemudian dia mengajarkan tentang menjaga kehormatan, menjauhi
keburukan, dan memupuk kerendahan hati. Itulah sebabnya, mengapa
sangat mudah bagi kita untuk menemukan guru yang mengajarkan tentang
kebesaran hati. Juga mudah untuk menemukan guru yang mengajarkan
tentang kerendahan hati. Dari kedua perguruan itu, orang-orang
kemudian belajar berjiwa besar dan menjaga kesucian diri. Lalu
menggabungkan kedua sikap itu untuk menjadikan dirinya; manusia
berkemampuan tinggi yang memiliki budi pekerti.

Muridnya yang ketiga? Dia tidak mendapatkan sedikitpun dari warisan
perguruan. Sebab, setiap orang harus menerima konsekuensi atas
tindakan dan keputusan yang diambilnya. Namun, dari semua yang sudah
dilakukannya, dia mendapatkan hadiah lain; Sang Guru membawanya pergi
melanglangbuana. Itulah sebabnya, guru yang membimbing kita cara
membaca isyarat hati; tidak selalu mudah dicari. Karena, guru seperti
itu jarang menetap. Mereka melanglangbuana. Menjelajah hidup. Dan tak
terikat ruang dan waktu. Namun, ketika hendak pergi, Sang Guru
berkata kepada kedua murid pewaris perguruannya; “Meskipun tak
kelihatan, namun kami tetap berada didalam hatimu.” Katanya. “Jika
kalian ingin menemui kami, maka kalian tahu dimana harus
mencari….” Lalu, kedua orang sakti itu memudar. Menyatu dengan
udara. Kemudian terbang bersama angin. Mereka pergi
melanglangbuana…..

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan Kaki:
Hati itu seperti prasasti. Hanya berguna bagi mereka yang bersedia
membaca isyarat, dan menerima nasihat.

Balada Sepotong Roti Dan Sepercik Api

Materiku, Wisdomania No Comments »

Anda mempercayai bahwa memberi seseorang kail, jauh lebih mendidik
dibandingkan dengan memberinya ikan. Makanya, ada ungkapan
ini;”Berikan kail, bukan ikan!” Itu jika anda berada dalam posisi
sebagai ’sang pemberi’. Seandainya anda diposisi ‘yang diberi’; anda
pilih ikan atau kailnya? Saya yakin bahwa keputusan anda akan bias.
Entah karena anda merasa gengsi kalau memilih ikan. Atau, mungkin
anda memang tukang mancing ikan. Karena itu, saya tidak meminta anda
untuk memilih diantara ikan atau kail. Saya justru ingin anda
memilih; diantara sepotong roti dan sepercik api. Mana yang akan anda
pilih; roti atau api?

Saya tidak akan mencampuri keputusan anda. Namun, sebelum saya
membahas lebih lanjut, tentukan pilihan anda; roti atau api? Itu
penting bagi anda, karena dalam sejarah umat manusia; ada seorang
pribadi besar yang kisah hidupnya sangat berkaitan dengan
keputusannya untuk memilih diantara roti dan api. Anda ingat siapa
orang itu? Ya, dia adalah Nabi Musa sang kekasih Tuhan. Dijaman
ketika dia dilahirkan, ahli nujum meramalkan bahwa Firaun akan
dikalahkan oleh bayi laki-laki yang dilahirkan pada suatu rentang
waktu khusus. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan untuk membunuh
semua bayi lelaki yang dilahirkan pada masa itu. Sedangkan istri
Firaun, menyembunyikan seorang bayi lelaki yang sangat menarik
hatinya.

Apa yang terjadi ketika Fiarun menemukan bayi lelaki itu? Dia
memerintahkan untuk membunuhnya. Sang ratu tentu keberatan. Sehingga,
akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan ujian. Anda tahu ujiannya
seperti apa? Dihadapan sang bayi disediakan dua pilihan; roti dan
api. Jika bayi itu memilih api, maka dia akan diijinkan untuk hidup.
Tetapi, jika dia memilih roti, maka dia harus mati! Nah, sekarang
perhatikan kembali pilihan anda tadi….

Sebenarnya, ada apa diantara roti dan api? Begini. Roti, adalah
produk dari serangkaian proses yang panjang. Untuk mendapatkan
sepotong roti anda harus melibatkan sekurang-kurangnya seribu orang
yang tak kelihatan. Seribu orang? Ya. Ada petani yang menanam gandum.
Buruh yang menyiangi rumput. Kuli angkut. Sopir truk. Penjual bensin.
Pembuat oven. Pedagang loyang. Pertenak telur ayam. Karyawan pabrik
gula. Mereka adalah bagian dari ribuan orang tak terlihat untuk
membantu anda mendapatkan sepotong roti.

Pertanda apa ini? Ini adalah pertanda bahwa untuk sepotong roti yang
anda makan; anda berhutang budi kepada ribuan orang. Tetapi, mengapa
Tuhan memberi pertanda melalui roti dan api? Roti, tiada lain adalah
isyarat kenikmatan. Sehingga, Musa yang masih bayi itu mengajarkan
kepada kita sebuah moral bahwa semua kenikmatan dan pencapaian hidup
yang kita dapatkan – tidak ada yang terlepas dari kontribusi orang
lain. Bayi Musa mengajarkan; jangan lupakan fakta itu!

Roti juga adalah simbol dari kekayaan. Coba anda perhatikan; adakah
satu sen saja dari harta yang anda miliki itu diperoleh tanpa peran
orang lain? Pasti tidak ada. Harta anda, semuanya didapatkan atas
jasa dan bantuan serta kontribusi orang lain. Oleh karena itu, orang
kaya yang sombong tak ubahnya seperti manusia pandir yang tidak
menuruti ajaran Sang Nabi.

Roti adalah jabatan. Perhatikan jabatan yang anda sandang itu.
Bisakah anda mendapatkan jabatan itu tanpa dukungan dan bantuan serta
kontribusi orang lain? Jika kita pejabat publik, kita mendapatkannya
karena ribuan bahkan jutaan orang mempercayakan pilihannya kepada
kita dibilik suara. Jadi, para pejabat publik yang mengabaikan
rakyatnya tidak ubahnya seperti manusia durhaka yang lupa bahwa
jabatannya adalah titipan dari orang-orang yang dipimpinnya. Dia lupa
kalau Sang Nabi mengajarkan bahwa roti itu dibuat oleh ribuan bahkan
jutaan orang tak terlihat.

Roti adalah jabatan. Jika anda pejabat perusahaan. Supervisor,
Manager, Direktur, atau CEO sekalipun. Bisakah anda mendapatkan
jabatan itu tanpa orang lain? Tunjukkan kepada saya satu orang saja
manusia dimuka bumi ini yang memiliki jabatan tinggi dengan hasil
yang diusahakannya sendiri; jika itu ada. Jadi, jika seorang pejabat
perusahaan besar kepala, sok kuasa, dan memperlakukan anak buahnya
semena-mena; maka dia tak ubahnya seperti manusia yang lupa diri.
Padahal, sang Nabi bilang; roti yang kamu nikmati itu, adalah hasil
jerih payah orang lain.

Sedang api, adalah salah satu unsur murni di alam. Artinya, alam
menyediakan api tanpa campur tangan manusia sekalipun. Jika anda
malih rupa menjadi belatung, lalu anda masuk kedalam bumi sedalam-
dalamnya, maka anda akan bertemu dengan sumber api. Jika anda memilih
menjadi seekor capung, lantas terbang menuju matahari; maka anda juga
akan menemukan api.

Mengapa Sang Nabi yang masih bayi itu memilih api? Ternyata, itu
merupakan makna simbolik penuh arti. Seolah melalui Sang Nabi, Tuhan
hendak menyampaikan sebuah wahyu. Seperti yang dirangkum didalam dua
aspek berikut ini:

Pertama, menghindari roti. Keluarlah dari perebutan atas sepotong
roti. Perhatikan, dijaman ini; orang-orang sibuk berebut sepotong
roti. Berlomba rebutan kekayaan. Berkompetisi meraih simpati untuk
mendapatkan kekuasaan. Sikut-sikutan untuk memperoleh kursi dan
jabatan di perusahaan. Sikut kiri. Tonjok kanan. Injak bawah, tendang
depan, kentut belakang. “Keluarlah dari sana!” kata Sang Nabi. “Dan
merdekakan dirimu dari jeratan pesona sepotong roti”.

Kedua, memilih api. Milikilah unsur api yang murni. Karena api adalah
simbol dari daya hidup yang membara dan semangat mengelora. Biarkan
api itu memberi sinar bagi dirimu. Dan ijinkan dunia terang benderang
karenamu. Ketika memilih api, Sang Nabi menghidupkan jiwanya dengan
unsur yang paling murni. Dan dengannya dia memancarkan berkas-berkas
cahaya keseluruh penjuru bumi.

Sekarang, perhatikan kembali pilihan anda tadi.
Jika anda memilih roti, anda benar. Dengan roti itu anda akan menjadi
kenyang. Lagipula, seseorang harus memilih roti, agar kehidupan
manusia bisa tertata rapi. Yang perlu anda lakukan adalah; hendaknya
anda selalu ingat bahwa ada ribuan orang yang tidak anda kenal telah
memberikan kontribusinya, kepada sepotong roti yang anda miliki.
Kepada kekayaan anda. Kepada kedudukan anda. Kepada jabatan anda.
Ingatlah mereka. Dan berbuat baiklah dengan roti yang anda miliki
itu. Sebab, jika anda menjadi sewenang-wenang; maka anda telah
mengkhianati mereka.

Jika anda memilih api. Tetapkanlah hati anda dengan pilihan itu.
Karena, meskipun anda tidak kekenyangan; namun anda mempunyai cahaya
yang bisa menjadi penerang. Semoga, api yang anda pilih itu
menjadikan jiwa anda semakin hidup dalam terang. Sehingga, terang
anda; bisa menjadi petunjuk bagi para pemilik roti, dan pengembara
serta para pencari cahaya. Karena, ketika anda memilih api;
sesungguhnya anda telah dipilih Tuhan, untuk menjadi pembawa terang.
Seperti Tuhan telah memilih Musa, untuk membawa umatnya menuju
pencerahan.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/
Business Administration & People Development

Catatan Kaki:
Ada satu kenyataan hidup yang harus kita terima, bahwa; tak satupun
pencapaian pribadi yang kita dapatkan tanpa kontribusi orang lain.
Malu kita, jika semua pencapaian itu tidak menjadikan diri kita
manusia yang semakin berarti bagi mereka yang telah rela
berkontribusi.

Cerita malam tanpamu (kerinduan 1)

Puisiku 4 Comments »

Malam masih melantunkan sajak dengan khusuk

Sementara Mentari mengoyak kedamaian sang malam mengernyit menahankan perih.

Keduanya senantiasa bergulat dan melumat satu sama lain

Seolah tidak ada yang kalah dari semua pergumulan

disaksikan sebongkah batu

meringis saat mentari membakar dan mengernyit dicengkeram dinginnya malam.

Kini seolah semuanya terhenti, saat keduanya letih

dan ketika sang batu terbatuk tak kuasa lagi menahan kantuk

Menjadi isyarat bagi keduanya tuk segera sadari kekeliruan

yang mungkin terjadi

Dan akhirnya senyum lebar mentari menguak pagi, sementara malam tersipu dan malu

Memulai kisah baru penuh  cinta

saat malam memeluk erat mentari rebah dalam renjana

saat mentari bangunkan malam dengan hangat

saat sang batu pulas dalam kesendirian yang damai

lalu… dimanakah engkau… sahabatku..

Oyot Dragon WP Theme

Downloads, WP Theme No Comments »

oyotdragon

Anda menginginkan Theme Wordpress seperti ini, silahkan download di sini. OyotDragon


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in