SURAT DARI KAKEK

Wisdomania  Tagged , No Comments »

Suatu hari ada seorang anak muda sedang mengemasi barang - barang
milik kakeknya yang baru saja dikuburkan ketika tanpa sengaja dia
menemukan sebuah amplop berwarna merah. Tertlis di bagian depan amplop
itu “Untuk Cucuku Tersayang”. Anak muda itu segera mengenali
tulisan tangan kakeknya, lalu dibukanya amplop tersebut dan didapatinya
sebuah surat yang ditulis tangan oleh kakeknya. Anak muda itupun segera
membacanya .

Cucuku,

Beberapa tahun lalu engkau datang padaku dan bertanya,”Kakek,
bagaimanakah ceritanya sampai kakek bisa melakukan banyak sekali
pencapaian dalam kehidupan kakek? Walau sudah tua pun kakek masih nampak
bersemangat dan penuh energy, sedangkan aku merasa sudah lelah untuk
berusaha. Kakek, ajarkan aku bagaimana caranya agar aku dapat memiliki
antusiasme yang sama dengan kakek?

Waktu itu kakek belum tahu bagaimana caranya mengajarkannya padamu.
Namun kakek sadari bahwa usia kakek sudah mendekati akhir, kakek merasa
berhutang jawabannya padamu. Cucuku, inilah yang kakek yakini dalam diri
kakek.

Kakek percaya bahwa semuanya diawali dengan bagaimana seseorang melihat
kehidupan. Kakek namai hal ini dengan “Buka matamu lebar lebar”

Pertama, sadarilah bahwa hidup penuh dengan kejutan- kejutan, namun
banyak diantaranya begitu menyenangkan. Jika kamu menghindarinya terus
menerus, kamu akan kehilangan separuh dari kegembiraannya. Harapkanlah
kejutan- kejutan itu dengan pnuh gairah.

Ketika engkau bertemu tantangan - tantangan, sambutlah dengan suka cita.
Mereka akan membuatmu lebih bijak, lebih kuat dan lebih mampu daripada
sebelumnya. Saat engkau membuat kesalahan, bersyukurlah akan pelajaran
yang diajarkannya. Pahamilah pelajaran - pelajarannya dan gunakan
untuk membantumu meraih impian - impian hidupmu.

Dan.. selalu patuhilah hukum- hukum Tuhan. Saat engkau mengikuti
hukum - hukumNya, hidupmu akan bertumbuh. Jika engkau pikir bisa
mendapatkan lebih dengan melanggar hukum - hukumNya, engkau hanya
membodohi dirimu sendiri.

Yang tak kalah pentingnya adalah membuat keputusan secara jelas dan
pasti akan apa yang sesungguhnya benar - benar kamu inginkan dalam hidup
ini. Selanjutnya biarkan pikiran dan perasaanmu fokus padanya dan
lakukan usaha untuk mempersiapkan dirimu supaya layak menerimanya.

Namun bersiaplah juga untuk mengakhiri suatu masa dalam kehidupanmu
untuk memasuki sebuah masa yang baru. Seperti halnya engkau tumbuh
seiring waktu, engkau akan membutuhkan sepatu dengan ukuran yang lebih
besar. Oleh karena itu persiapkan dirimu untuk sebuah akhir sebaik
persiapanmu untuk menyongsong sebuah awal yang menantang.

Kadang kala kita juga harus berani berjalan dari suatu keadaan yang
tidak asing menuju ke wilayah - wilayah yang asing dalam hidupmu.
Hidup tidak hanya tentang mencapai sebuah puncak saja. Sebagian darinya
adalah tentang bergerak dari satu puncak ke puncak berikutnya. Jika
engkau terlalu lama beristirahat, maka engkau akan tergoda untuk
berhenti dan keluar dari permainan. Tinggalkan masa lalu di masa lalu,
Dakilah gunung berikutnya dan nikmati pemandangannya.

Ketika sebuah kemarahan, dendam, keyakinan, atau sikap menjadi berat,
ringankanlah bebanmu. Buang semua hal yang membuatmu emosimu dan
spiritualmu terpuruk. Buang semua sikap yang menyakitkan yang
memperlambat jalanmu dan membuang - buang energymu.

Ingatlah bahwa keputusan - keputusanmu akan mengakibatkan kesuksesan
- kesuksesanmu atau kegagalan - kegagalanmu. Oleh karena itu
pertimbangkanlah diantara jalan - jalan yang ada di depanmu dan
putuskan jalan mana yang akan kau tempuh. Kemudian percayalah pada
dirimu, bangkitlah dan melangkahlah.

Jangan lupa untuk berhenti sejenak. Itu akan memberimu kesempatan untuk
memperbarui komitmentmu terhadap impian - impianmu dan memperbaiki
persepsimu terhadap hal- hal yang terbaik bagi dirimu.

Yang paling penting dari semua itu, pantang menyerah. Seorang yang
akhirnya menjadi pemenang adalah seorang yang memutuskan untuk menang.
Berikan dalam kehidupanmu apa yang terbaik yang kamu bisa dan kehidupan
akan memberikan kembali hal yang terbaik padamu.

Dengan Penuh Cinta

Kakekmu

Semoga kisah di atas bermanfaat buat pembaca sekalian

Salam Sukses dan Berkelimpahan Selalu

Michael Antony Ugiono

Wong Paran, Ngangsu Kaweruh

Berita Kangoyot, Curah Pikir  Tagged No Comments »

Wong paran, nama samaran dari temenku saat aku minta ijin menuliskannya disini. Nama aslinya berinisial JW tapi lebih di kenal dan populer dengan sebutan JB. Tapi karena permintaanya untuk tidak menyebutkan nama sebenarnya dalam tulisan ini, JB diganti adja denga WB. B adalah inisial dari singkatan Breng yang juga singkatan dari Brengos … Sedang W mengikuti permintaanya juga singkatan dari Wong. Jadi panggilan samaran lengkapnya adalah Wong Breng alias Wong paran.
Entah boemi mana saja yang sudah di paran (kunjung) -i . untuk ngangsu kaweruh lan ngangsu banyu ugi ngangsu berkat.
Sudah hampir 4 tahun lebih tidak ketemu sama sekali sama temen yang satu ini, yang sangat terkenal dengan sebutan Breng.. alias Brengose itu. Ya itu karena kegemaranny saat kuliah dulu memelihara Brengose sing kandel iku. Dengan tingkah dan kelakuannya yang menurutku and temen temen sangat kocak dan konyol. Kini dia sudah tinggal di Ibu Kota dengan semua yang bersamanya tentuny, ya istrinya, ya anaknya yang masih kecil juga. Tiba tiba siang tadi, dia muncul di mesenger ku yang selalu online… dan terjalin obrolan ringan sederhana sedikit mengernyitkan dahi… bukan semata karena berpikir keras, tapi lebih karena rasa lapar dan ngantuk yang ikut-ikutan menyerang dari depan dan belakang… he he he

Beginilah dialog gila bersama Wong Breng yang sangat terkenal itu..

Wong Paran: poso ji?

Akang: insya allah kang

Wong Paran: yo sokor nek ngono

Akang: lah kowe piye loh?

Wong Paran: wah nek iku menyangkut hati ji…dadine aku gak wani omong…ben tak simpen dewe ae…ojok mbok pikir nemen2 loh…biasa ae ji…

Akang: weleh weleh wes level wali nek ngono

Wong Paran: yo gak isok di level i ji….kok koyok cah sekolah ae…ati kan gak kenek di ukur tooo…sing ketoke apik..gurung tamtu batine apik..semono ugo suwalike…dadine biasa ae ji…ojok ketipu klawan mripat lan angen2 mu…

Akang: weleh weleh tambah sip ae arek iki.. ora rugi ale ngumbara seprana seprene

Wong Paran: lah….awakmu iki lak ketipu too….ambek kata2 ae wes percoyo….

Akang: weleh weleh.. tibake tukang tipubiasa ae Wong ojok dipikir loh… langsung lebokke ati ae

Wong Paran: saiki ngene ji…menurutmu yok opo antara sinkronisasi batin ambek perilaku sing tepak iku?

Akang: sinkronisasi bathin iku salah satu proses yg terjadi dikedalaman diri kita, yakni penyelarasan antara unsur unsur bathin satu dengan lainnya yang sedang melakukan proses dialog antara nilai yang dipahami dengan kemauan dan keingainan yang dimiliki serta prinsip dasar yang sudah ada dan tertanam dalam diri sejak lahir alias fitrah. proses sinkronisasi batin saat menuju prinsip dasar atau fitrah ini ada yang menyebutnya dengan “zero mind proses”, dan lain lain. yang bilamana ini terjadi dengan benar, maka akan melahirkan perilaku sing tepak iku. perilaku sing tepak iku yaitu perilaku yang selaras dan seuai dengan prinsip dasar atau fitrah itu sendiri

Akang: piye Wong .. jlentrehane wes tepak durung?

Wong Paran: sik ji..tak rasakne sik….alon2…rodo ketul iki

Wong Paran: yg berperan dalam proses penyelarasan itu siapa dan apa? kemudian untuk apa itu? trus benefitnya apa ji?….sorri ji..aku mencoba memahami sabda yang telah engkau kemukakan ini….

Akang: he he he.. ora popo Wong iki ngono pinongko kanggo podo sinaune urip,

Akang: sik tak pikire disik yooo

Wong Paran: sumonggo sangaji….

Akang: proses penylarasan itu sebenarnya terjadi pada setiap orang. hanya saja yang membedakan adalah ada yang melakukannya dengan sadar ada yang tidak sadar. bagi mereka yang tidak sadar tentunya juga tidak tahu apa dan bagimana proses itu, yang dia tahu, hidup ini berproses seperti adanya kejadian yang dia alami dan seperti itu seterusnya hingga dia memiliki kesadaran untuk melakukan proses tersebut. Bagi yang yang sedang berproses (artinya secara sadar dia berproses ini) maka dia tentunya memiliki maksud dan tujuan atau setidaknya dalam proses tersebut dia juga menetapkan atau menentukan tujuan dari proses tersebut. Agak sedikit lucu tapi ngga papa lucu juga,manakala dia menyadari sedang dalam proses tetapi lupa menentukan tujuannya.Tujuan masing masing orang tentunya tidak semua sama,…

Akang: bersambung Wong Breng sek yoo..

Akang: ojok diselo disik

Akang: tujuan masing masing orang tentunya tidak semua sama, ada yang untuk kepentingan pengembangan diri dan karir, ada untuk kepentingan peningkatan nilai spiritualitas, ada yang untuk kepentingan ini, itu, ada yang untuk kepentingan orang lain (yang tentunya ada side effect sebenarnya untuk kepentingan dirinya sendiri). ada yang semata mata untuk kepentingan penghambaanya pada Ilahi. Sekiranya hampir kesemuanya adalah untuk dirinya sendiri. bicara benefit dari proses sadar tersebut ya disesuaikan dengan tujuan masing masing orang yang melakukannya, jika prosesnya berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Akang: kinten kinten meniko kang mas Wong

Akang: kados pundi kang mas?

Wong Paran: sik…ji, iki bener gak…batin = fitrah?

Akang: bathin menurutku ada beberapa komponennya Wong, ada nafsu dan ada fitrah, jadi fitrah iku salah sijine unsure bathin, piye?

Wong Paran: ono 4 janne…Cuma aku gurung paham….sedulur papat limo pancer….

Wong Paran: tapi secara garis besar ada 2 itu yaa….baik n buruk

Akang: iya, kira kira ngono

Akang: lah kowe opo wes tau ketemu sedulur papatmu kuwi Wong

Wong Paran: sik..ojok takon iku…wong paham ae gurung…

Akang: he he he .. nek aku sedulurku ono telu, wes tau ketemu kabeh tapi saiki wes rodho jarang…

Wong Paran: berarti begini ji yaa….kalo dari penjelasan pertamamu td kan penyelelarasan ada yg sadar n tidak….yg sadar klo boleh saya simpulkan kalo berkaitan dengan fitrah….yg sebleumnya disertai dg kontemplasi dan penyadaran diri yg mendalam….

Wong Paran: sedangkan yang kedua

Wong Paran: adalah penyelarasan yang tidak sadar yang cenderung karena menguatnya batin yang buruk…

Wong Paran: yang mana ini akibat dari polusi yang berkepanjangan yg susah untuk dibendung

Wong Paran: tujuannya supaya kita bener2 menjadi manusia

Wong Paran: dan menjaga fitrahnya untuk nanti akan dikembalikan dari asalnya….

Wong Paran: ngunu ji?

Akang: wah iyo, kiro kiro mengkono kuwi, cuman aku rodho nggaris bawahi babperkoro kontemplasi dan penyadaran sing mendalam mau ojo terus dianggep sing model wong kudu mertapa, utopo uslah nang salah sijine panggonan terus mikir jeru ngono, ojok sampek mengkono loh, sebab manungso urip kuwi yo ono keperluan sing liyane sing yo perlu dikerjakno lan ditunaikan kewajibane… terus aku arep takon, masalah polusi sing mbok maksud nang duwur iku opo to kang mas Wong breng?

Wong Paran: polusi iku penipuan pandangan yg menyebabkan garis lurus tidak terlihat lurus dan sebaliknya…

Wong Paran: yoo..aku sepakat nek kontemplasi iku gak mesti kodo topo….

Wong Paran: tapi perlu ngurangi sing enak2….

Akang: oooo… iyo… tapi isok dijelasno maneh perkoro polusi mau Wong?

Wong Paran: iku maya ji….

Wong Paran: lingkungan sing gak sesuai fitrah…semua ujian2 yang mengancam kelulusan….

Wong Paran: salah menilai sesuatu dan keadaan

Akang: iyo .. mengkono iku… dadi awake dewe kuwi yo kudu saling ngelingno bab perkoro sing koyok polusi mau.

Akang: kang mas Wong.. aku njaluk ijin .. jagongan iki mau tak pasang nang nggone kangoyot.com

Akang: kanggo nambahi tulisan sing menyangkut awakmu… he he he

Akang: besuk besuk maneh jagongan sing kepenak bab perkoro liyane…

Akang: jadi tetep keraketan ing penggalih sareng kalian kangoyot.com

Wali Sanga

Kilas  Tagged , No Comments »

Walisongo berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim,Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat sembilan wali ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai tabib bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai paus dari Timur hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

Syaikh Maulana Malik Ibrahim

Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

Sunan Ampel

Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkimpoiannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.

Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah Mo Limo (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Sunan Giri

Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah giri. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

Sunan Bonang

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat cintaâ„¢(’isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah Suluk Wijil yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Said Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang Tombo Ati adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan isbah (peneguhan).

Sunan Kalijaga

Dialah wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (kungkum) di sungai (kali) atau jaga kali. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab qadli dzaqa yang menunjuk statusnya sebagai penghulu suci kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang tatal (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung sufistik berbasis salaf -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

Sunan Gunung Jati

Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya wali songo yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Sunan Drajat

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.

Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarahyang berarti sapi betina. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Muria

Ia putra Dewi Saroh adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

taken from : spritual@kaskusdotus


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in